"Kita berupaya cari tahu permasalahan ini," ujar Marty menjawab pertanyaan wartawan di Istana Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (4/1/2011).
"Jadi itu berita bohong ya Pak?" tanya wartawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria berkacamata ini menuturkan, dari penelusuran yang dilakukan pihak Kementerian Luar Negeri kepada pihak-pihak yang sebelumnya sempat dikaitkan dengan Imanda, nama wanita itu tidak tercatat di mana pun.
"Sepanjang hari kemarin saya juga sudah jelaskan, kami semakin bisa mengkonfirmasi bahwa dari berbagai pihak, UNRWA (United Nations Relief and Works Agency) menyatakan yang dimaksud bukan sebagai pejabat UNRWA. Ini konfirmasi dari PBB di New York, UNRWA di Kairo, UNRWA di Amman, PBB di Jakarta. Dan tidak ada yang namanya demikian sebagai staf UNRWA," tegasnya.
Pemerintah Australia, lanjut Marty, juga telah membantah Immanda sebagai salah satu warganya. "Kita juga menelusuri dengan pemerintah Australia, apakah nama tersebut sebagai warga Australia. Tadi pagi saya sudah dapat konfirmasi dari pemerintah Australia bahwa nama tersebut tidak ada sebagai daftar warga negara Australia," tandasnya.
Kabar tewasnya Imanda Amalia (28) yang berawal dari laman grup Facebook, menghebohkan publik. Pada Kamis (3/2), moderator laman grup Science of Universe memasang status kabar duka cita wafatnya Imanda Amalia, sekitar pukul 11.00 WIB. "Imanda Amalia (28 tahun), seorang warga negara Indonesia dan anggota (UNRWA) dilaporkan telah meninggal dunia akibat pergolakan politik di Mesir," demikian pengumuman di wall facebook itu.
Belakangan, berbagai pihak membantah kabar ini mulai dari pemerintah Indonesia sampai badan PBB. Namun kebingungan ini tidak tuntas juga. Hal itu memicu spekulasi bahwa Imanda Amalia hanya tokoh rekaan belaka. (lia/nrl)











































