"Pemuka agama harusnya menjadi lidah api bagi masyarakat dan pemerintah," ujar Sri
Edi.
Hal itu dikatakannya dalam diskusi "Laporan ke Rumah Pengaduan Pembohongan
Publik di Bidang Pendidikan" di Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun, Jakarta
Timur, Jumat (4/2/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya khawatir ketika para tokoh lintas agama ngomong terus, akan mereduksi dirinya sendiri," kata Sri Edi Swasono.
Sri Edi menyarankan, agar para tokoh lintas agama tidak terlalu sering berbicara hal yang sama secara terus menerus.
"Saya khawatir ini akan menjadi wacana," ucapnya.
Sri Edi mencontohkan, pemuka agama di Iran yaitu Ayatollah Khomeini tidak sering berbicara di media, akan tetapi jika pemimpin spritual tersebut berbicara tentang kejelekan pemerintah, maka akan didengar langsung oleh masyarakat.
"Dan saat ini rakyat sudah capek tidak diperhatikan oleh negara," jelasnya.
Pada diskusi tersebut, dihadiri juga oleh pengamat komunikasi Effendi Ghazali, sejarahwan Anhar Gonggong, dan pendeta Benny Susetyo.
(fiq/gun)











































