Dalam proposal AS tersebut, Mubarak akan menyerahkan kekuasaan pada pemerintahan transisi di bawah pimpinan Wakil Presiden Omar Suleiman dengan dukungan militer Mesir.
Demikian diberitakan The New York Times, Jumat (4/2/2011) mengutip pejabat-pejabat pemerintah AS dan diplomat-diplomat Arab.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenai pemberitaan The New York Times, juru bicara Departemen Luar Negeri AS, P.J. Crowley mengatakan: "Presiden, Menlu (Hillary) Clinton dan lainnya telah mendorong pemerintah Mesir untuk melakukan transisi dengan tertib. Di luar itu, kami tidak akan memberitahu saran kami."
Menurut pejabat-pejabat senior AS yang dirahasiakan identitasnya, proposal tersebut merupakan satu di antara beberapa opsi yang tengah dibahas dengan pejabat-pejabat tingkat tinggi Mesir di sekitar Mubarak, meski tanpa melibatkan langsung Mubarak. Pembahasan tersebut merupakan upaya untuk meyakinkan Mubarak agar bersedia mundur saat ini juga.
Sejauh ini Mubarak bersikeras untuk menolak mundur secepatnya seperti yang diinginkan jutaan warga Mesir yang berdemo di Kairo dan kota-kota lainnya di Mesir. Namun para pejabat AS dan Mesir masih terus melakukan pembicaraan mengenai pengunduran diri Mubarak.
Kepada ABC News, Mubarak mengatakan jika dirinya mundur sekarang, Mesir akan jatuh ke dalam kekacauan. Mubarak juga mengkhawatirkan kelompok oposisi Islam, Ikhawanul Muslimin akan mengambil alih Mesir.
(ita/nrl)











































