"Saya dari jam 6 di sini cuma dapat Rp 10 ribu, buat jajan sama naik bus aja sudah Rp 20 ribu," keluh Mimi (55), yang datang dari rumahnya di Prumpung, Jakarta Timur, Kamis (3/2/2011).
Mimi, yang sehari-hari hidup dari mengemis ini bercerita, angpau yang didapat dari Imlek tahun ini lebih kecil ketimbang dari tahun lalu. Karena 'target' angpaunya belum terpenuhi, nenek dari 12 cucu ini pun tetap bertahan di vihara tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nunggu sampai sore. Kalau sudah selesai, saya mau jalan lagi," kata Mimi yang biasa menyusuri Condet dan Depok untuk mengemis ini.
Beda halnya dengan, Saryono (50), warga asal Tangerang. Imlek kali ini adalah pertama kali ia datang ke vihara untuk berburu angpau.
"Saya kesini diajak temen-temen. Katanya rame, bagi-bagi duit. Tapi ini rame doang, nggak ada duitnya," kata Saryono, yang datang bersama istrinya.
Meski berbeda pengalaman dengan Mimi, namun angpau yang didapat Saryono tak ubahnya Mimi, sama-sama sedikit. "Cuma bisa buat beli rokok," kata Saryono.
Mimi dan Saryono hanyalah segilintir warga miskin yang berburu angpau tiap tahun. Angpau yang bagi kebanyakan orang tidak seberapa, mungkin sangat berarti bagi mereka untuk membantu mencukupi kebutuhuan.
"Saya tiap hari kuliah, kuli payah di toko besi," ujar Saryono tentang pekerjaannya.
(lrn/fay)










































