GP Ansor DIY Imbau Hasyim Muzadi Non-aktif

GP Ansor DIY Imbau Hasyim Muzadi Non-aktif

- detikNews
Minggu, 09 Mei 2004 00:20 WIB
Yogyakarta - Imbauan agar Hasyim Muzadi non-aktif sebagai Ketua umum PBNU setelah menjadi cawapres Megawati semakin meluas. Imbauan terbaru datang dari Gerakan Pemuda (GP) Ansor Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)."Kita mengimbau Pak Hasyim bisa legowo tidak aktif dulu atau mengundurkan diri dari jabatan strukturalnya. Itu lebih baik dan sikap yang elegan," kata Pelaksana Harian Pengurus Wilayah GP Ansor DIY Sidik Pramono kepada wartawan di RM Bu Citra Jalan Janti Yogyakarta, Sabtu (8/5/2004).Imbauan ini, lanjut Sidik, tidak hanya ditujukan kepada Hasyim Muzadi saja yang saat ini menjabat sebagai ketua umum PB NU. Tetapi juga kader NU lain yang saat ini tengah dipinang oleh parpol lain untuk menjadi cawapres."Kita hanya menghimbau kepada kader-kadernya, siapa pun juga untuk legowo minimal non-aktif, kalau perlu mundur dari jabatan struktural. Dan ini tidak hanya untuk Pak Hasyim saja tapi juga kepada Gus Solah dan kader lainnya," tegas Sidik.Sidik mengakui, diliriknya NU parpol lain untuk dijadikan pasangan cawapres itu cukup membanggakan. Namun dibalik kebanggaan itu juga ada rasa was-was akan terpecah dan terpolarisasinya nahdliyin di tingkat grassroot atau akar rumpur. "Kita memang tidak ingin warga NU terpecah. Tapi bila terjadi polarisasi maka siap atau tidak siap harus mengantisipasinya," katanya.Ditanya apakah GP Ansor DIY akan mendukung cawapres tertentu dari NU, Sidik mengatakan Yogyakarta sendiri tidak mendukung salah satu calon. GP Ansor DIY membebaskan anggotannya memilih. Kecuali bila ada keputusan resmi.Secara terpisah Ketua Komite Santri Penyelamat Khittah NU M. Lutfi Rahman menyatakan prihatin dan menyesalkan sikap Hasyim Muzadi membawa gerbong NU dalam wilayah politik praktis. "NU adalah organisasi sosial keagamaan, bukan partai politik. Sangat ironis dan tidak pantas membawa NU sebagai modal ke meja pertaruhan politik," katanya.Lutfi Rahman juga mengimbau Hasyim mundur dari jajaran kepemimpinan PBNU. "Hal ini juga berlaku untuk siapa pun elite NU yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung dalam politik praktis," ujarnya.Keputusan Hasyim menjadi cawapres Mega, menurut Lutfi, bertentangan dengan khittah NU 1926. "Sebagai ketua PBNU seharusnya Hasyim menjaga konsistensi khittah. Sejarah pernah membuktikan, karena tenggelam dalam politik praktis, NU terpuruk sampai pada titik yang terendah," katanya. (gtp/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads