"Saat-saat terakhir menjelang keruntuhan, biasanya seorang pemimpin menjanjikan sesuatu. Namun karena (rakyat) kecewa, tawaran itu pasti ditolak. Ini trik penguluran waktu, tapi ini bisa merugikan dia karena rakyat melihat dia masih ingin memegang kuasa," ujar pengamat politik internasional dari UI, Hariyadi Wirawan PhD, kepada detikcom, Rabu (2/2/2011).
Hariyadi berpendapat, Mubarak harus benar-benar memikirkan jalan keluar yang bermartabat. Jangan sampai yang dilakukannya justru memicu anarkisme berlebihan sehingga berdampak pada pengusiran atau yang lebih parah menyebabkan Mubarak terbunuh akibat tidak mau mendengarkan keinginan rakyat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tentara Mesir, imbuh pria yang pernah mengenyam pendidikan politik di Universitas Jawaharlal Nehru India ini, pun mendua. Ada yang masih setia pada Mubarak namun ada yang sudah menyatakan mendukung aksi rakyat. Bagaimanapun, tentara tidak akan mungkin menembaki rakyatnya sendiri. Karena itu, besar kemungkinan para jenderal menasihati Mubarak untuk segera pergi meninggalkan Mesir.
"(Wapres) Omar Suleiman bisa memegang pemerintahan transisi, meskipun besar kemungkinan akan ada penolakan dari oposisi. Tapi saya rasa, Suleiman yang paling aman memegang pemerintahan sampai ada pemimpin baru," terangnya.
Di bawah Suleiman, diharapkan terbentuk komite hingga pemilu berikutnya. Di Mesir saat ini belum mengkristal siapa yang sosok yang bisa menjadi pemimpin. Bisa saja Mohamed AlBaradei menjadi pemimpin, sayangnya di tingkat akar rumput tidak kuat. Selain itu, dari kalangan Ikhwanul Muslimin yang merupakan oposisi terbesar di Mesir sangat mungkin memiliki calon yang akan dimajukan sebagai pemimpin.
"Lalu dari kalangan militer juga pasti punya calon sendiri. Jadi sebaiknya semua disiapkan di bawah pemerintahan transisi hingga pemilu nanti," lanjut Hariyadi.
Hariyadi menambahkan, seruan Presiden AS Barak Obama agar transisi di Mesir dilakukan sekarang juga merupakan sinyal bagi Mubarak untuk segera lengser. Memang Mubarak masih memiliki pendukung, namun tidak signifikan.
"Jika Mubarak memaksa bertahan, ekonomi akan semakin hancur dan banyak korban berjatuhan. AS menyerukan transisi sekarang juga karena ini terkait dengan citra Barat. AS juga takut, yang mengambil keuntungan dari situasi ini adalah Ikhwanul Muslimin," tutur Hariyadi.
Jika Mubarak turun, sudah pasti tidak akan menguntungkan Israel. Sebab Mubarak adalah penerus kebijakan presiden Mesir sebelumnya, yakni Anwar Sadat. Anwar Sadatlah yang menandatangani perjanjian damai dengan Israel.
"Makanya Israel mendukung Mubarak. Mereka takut kalau pemerintah mendatang tunduk pada sayap kanan, maka kerangka perdamaian bisa kacau lagi dan ini akan mengancam keamanan nasional Israel. Tahun 1967 menunjukkan Mesir adalah musuh paling kuat Israel," terang Hariyadi.
Ada perubahan pemerintahan atau tidak di Mesir, bagi Indonesia tidak ada dampak secara langsung. Karena selama ini hubungan dengan Mesir cukup baik. Hubungan di bidang pendidikan dan perdagangan ditengarainya tidak akan terganggu.
"Tahun ini akan ada perayaan 56 tahun Gerakan Non Blok (GNB). Mesir sebagai salah satu pemrakarsa gerakan ini tentunya diharapkan bisa turut merayakan dalam keadaan yang lebih bahagia, lebih demokratis," ucap Hariyadi.
Keadaan Mesir saat ini menurutnya sangatlah buruk. Tidak heran jika sejumlah warga negara asing mulai dievakuasi dari Mesir. Akan sangat repot malah jika evakuasi tidak segera dilaksanakan.
Demonstrasi antipemerintah Mubarak telah berlangsung lebih dari sepekan. PBB memperkirakan korban tewas mencapai 300 orang.
(vit/nrl)











































