Pernyataan itu disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Magelang Wijayanti Selasa(1/1/2011) dik antronya.
"Kami diminta Pak Menteri untuk meneliti. Terutama kondisi lingkungan dan tanda-tanda yang mungkin dapat dijadikan dasar menelusuri proses dibuatnya crop circle itu,” ungkap Wijayanti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wijayanti mengungkapkan para petani, pengurus kelompok tani, harus waspada terhadap adanya perusakan tanaman itu. Apapun dalih dan alasannya itu perbuatan yang tidak baik bagi petani dan masyarakat lainnya.
"Kita baru saja tertimpa musibah hujan abu vulkanik Merapi. Sekarang banyak petani yang tertimpa banjir lahar dingin Merapi. Banyak kerugian yang diderita petani. Sebaiknya tidak ditambah-tambah penderitaan petani ini dengan perbuatan merusak tanaman yang mengatasnamakan kreativitas atau seni," kata Wijayanti.
Direktur Lembaga Keuangan dan Agribisnis “Beras Merah” Magelang Soekam Parwadi menjelaskan merambahnya tindak pembuatan crop circle sampai Magelang, diduga akibat adanya dukungan ilmiah.
"Padahal kalau tindakan ini tidak segera dihentikan, masyarakat petani yang akan menderita kerugian. Disamping itu masyarakat umum, karena situasi pikirannya dibuat kacau balau," jelas Soekam.
Soekam menyatakan pemilik tanaman tergolong petani kecil, yang mengandalkan padinya untuk gantungan hidup dirusak oleh pihak yang tak bertanggung jawab. Secara pasti, penyebabnya lagi-lagi belum diketahui dengan pasti.
"Namun tanda-tandanya kerusakan tanaman yang membentuk pola lingkaran itu dilakukan oleh tangan-tangan manusia. Kalau nantinya pelakunya tidak mengaku, maka petani akan menanggung kerugian sendiri. Kami mengutuk perbuatan jahat itu," tutur Soekam.
Akibat perbuatan buruk perusak padi yang dianggap tidak gentle itu, sekarang masyarakat mulai resah. Bukan hanya petani padi, tetapi juga tanaman palawija dan sayuran.
Anehnya, belum satupun pejabat pemerintah, paling tidak yang membidangi ketahanan pangan, merasa perlu untuk melawan hama baru yang jelas-jelas mengurangi jumlah panen padi itu.
"Entah berapa pun besarnya dan nilai kehilangan hasil padi akibat kerusakan hama crop circle itu, tidak boleh dianggap enteng. Kerugian berupa tekanan psikologis masyarakat, jauh lebih besar dan sulit dihitung dengan angka. Jangan-jangan ini adalah agenda pengalihan perhatian publik dari peristiwa besar yang menyangkut pengusutan korupsi atau kejahatan lain yang terjadi dinegri ini," tegas Soekam.
Soekam menambahkan saat ini di masyarakat telah berkembang kabar adanya “kejadian aneh” sebelum terbentuknya crop circle. Namun kejadian yang disebut “aneh” itu baru diingat setelah terjadi kerusakan padi.
Kalau kejadian itu diawali semacam “angin lesus”, katanya, Jum’at (28/1) dan Sabtu (29/1), di wilayah Tegalrejo dan sekitarnya memang sedang terjadi angin kencang secara umum dan hal itu biasa.
Agar masalahnya tidak menimbulkan persepsi buruk yang semakin melebar, sebaiknya pernyataan dari Dekan Mipa UGM Dr Cahiril Anwar, tentang pembuat crop circle bukan sebagai perbuatan kriminal hendaknya dicabut.
"Jika tidak, dikhawatirkan kerugian petani dan masyarakat akibat penggila sensasi ini akan semakin besar," jelas Soekam.
(anw/anw)










































