Tak diragukan lagi bahwa Israel mengalami kegagalan intelijen yang serius. Sebab baru saja pekan lalu, direktur intelijen militer Israel yang baru, Mayjen Aviv Kochavi, menyampaikan pandangan regionalnya untu tahun 2011. Dalam pidatonya itu, sama sekali tidak disebut soal kemungkinan adanya pergolakan di Mesir ataupun instabilitas dalam rezim Mubarak.
Para pejabat tinggi Israel pada Minggu, 30 Januari waktu setempat telah menggelar pertemuan untuk membahas krisis Mesir serta implikasinya bagi keamanan Israel. Namun dalam rapat tersebut, para pejabat tak bisa memberikan rekomendasi mengenai apa yang harus dilakukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sedang memeriksa kegagalan apa yang menyebabkan kita salah membaca situasi," imbuh pejabat tersebut.
Dikatakan pejabat yang minta dirahasiakan identitasnya itu, pemerintah Israel tadinya mengira aksi-aksi protes yang menjamur di Timur Tengah sejak revolusi di Tunisia tak akan banyak berpengaruh bagi Mesir.
Intelijen Israel selama ini yakin akan tangguhnya kepemimpinan Mubarak serta kekuatan polisi dan militer Mesir.
"Kami tidak mengira aksi-aksi protes itu akan meraih momentum begitu besar dengan sangat cepat," ujar pejabat intelijen Israel.
Saat ini aksi demo besar-besaran terus berlangsung di Kairo dan kota-kota lainnya di Mesir. Para demonstran bertekad akan terus melakukan aksi mereka sampai Mubarak mundur. Sejauh ini lebih dari 100 orang telah tewas akibat bentrokan antara aparat polisi dan demonstran selama demonstrasi tersebut.
(ita/nrl)











































