Wawan Sutisna (36) terlihat bingung. Sesekali telapak tangan kanannya memegang dahi dan menopang dagu. Sementara puluhan sopir bus Patas 6 (P6) yang duduk di anak tangga Terminal Kampung Rambutan dan berada di belakang Wawan riuh membicarakan nasib mereka jika bus dengan trayek Kampung Rambutan-Grogol benar-benar diberhentikan.
"Enggak tahu mau ngapain, kerja apa kalau tanggal 7 nanti bus sudah enggak boleh beroperasi," keluh Wawan saat ditemui detikcom di Terminal Kampung Rambutan, Senin (1/2/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang jadi sopir P6 ini rata-rata orang lama, yang baru cuma beberapa," ujarnya seraya menghisap rokok kretek.
Bapak 2 anak asal Cianjur ini mengaku sudah mengetahui kalau trayek yang biasa dilaluinya dibekukan pemerintah karena bersingunggan dengan busway koridor IX. Namun dia nekat beroperasi agar dapur rumah di kampung halamannya tetap mengepul.
"Kalau enggak narik gimana mau bawa uang ke kampung, mas," ucap pria berambut keriting ini.
Senada dengan Wawan, sopir P6 lainnya Zaenal (40), mengaku keberatan dengan pembekuan trayek bus. Menurutnya, pemerintah tidak memberikan solusi terhadap nasib mereka jika benar bus yang biasa dibawanya dihapuskan.
"Kalau total dihapuskan terus terang kita keberatan. Cuma P6 yang melayani penumpang 24 jam, kalau busway kan enggak 24 jam operasinya," terang Zaenal.
Zaenal bersikukuh untuk tetap memperjuangkan operasional P6. Dia dan beberapa rekan satu pekerjaan akan mendesak perusahaan untuk mempertahankan trayek tersebut.
"Kalau ternyata tanggal 7 kita semua diberhentikan total sopir-sopir di sini bakalan demo supaya P6 tetap beroperasi," ancam Laki-laki yang memulai kerja di Mayasari Bakti sejak 1990.
(ahy/gun)











































