Kesulitan Izin Mendarat di Mesir, Sebaiknya RI Minta Tolong Negara Lain

Kesulitan Izin Mendarat di Mesir, Sebaiknya RI Minta Tolong Negara Lain

- detikNews
Selasa, 01 Feb 2011 11:13 WIB
Kesulitan Izin Mendarat di Mesir, Sebaiknya RI Minta Tolong Negara Lain
Jakarta - Pesawat Garuda telah diterbangkan untuk mengevakuasi 6.147 WNI di Mesir secara bertahap. Namun izin pendaratan atau flight clearance di Kairo belum dikantongi. RI diusulkan meminta tolong negara lain untuk menitipkan warganya.

"Dalam keadaan darurat, kita bisa minta tolong negara besar yang memiliki akses ke sana (Kairo). Misalnya saja AS dan Inggris. Saya dengar, mereka bisa masuk ke sana," ujar pengamat hubungan internasional dari UI, Hariyadi Wirawan, dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (1/2/2011).

Dia menambahkan, butuh kepiawaian diplomat Indonesia dalam menjalin komunikasi dengan negara-negara tersebut. Biasanya untuk operasi kemanusiaan, negara-negara tersebut tidak keberatan jika dititipi untuk menerbangkan warga negara lain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Anak dan perempuan sudah diperintahkan untuk dikeluarkan lebih dulu dari Mesir. Jadi mereka ini bisa dititipkan ke pesawat negara lain yang sudah punya akses masuk. Kalau tujuan pesawat itu ke Malta, misalnya, ya nggak apa-apa. Yang penting selamatkan WNI dulu," tutur Hariyadi.

Jika WNI dibawa ke Malta, sambungnya, bisa ditangani oleh KBRI di Roma, Italia. Maklum, KBRI Italia merangkap Malta. Karena diterbangkan ke negara lain yang lebih jauh, tentunya butuh ongkos besar untuk memulangkan mereka ke Tanah Air, namun dalam kondisi seperti ini hal itu terkadang menjadi satu-satunya pilihan.

"Dalam keadaan begini, nggak mungkin gratisan. Selamatkan dulu WNI. Daripada hanya diam dan menunggu, lebih baik aktif meminta bantuan. Jangan kehilangan akal," lanjut dia.

Menurut Hariyadi, tempat terbaik untuk mengevakuasi WNI adalah Yordania. Pertimbangannya, negara itu dekat dengan Mesir dan relatif tidak ada demo. Untuk lebih aman lagi, WNI di Mesir dievakuasi ke Eropa Selatan seperti ke Malta, Yunani dan Italia.

"Kalau ke Lebanon saya kira nggak mungkin karena di sana sedang tegang antara Sunni dan Hezbollah. Sudan sedang ramai. Kalau perjalanan darat, Hamas sudah menutup Gaza. Ke Libia jauh, padahal demo Mesir ada di berbagai kota, tidak hanya Kairo," ucapnya.

Evakuasi laut, menurut Hariyadi tidak memungkinkan. Karena setidaknya butuh 3 pekan untuk mencapai Mesir. "Yang paling mungkin memang udara. Karena belum dapat izin, maka yang terbaik ya menitipkan mereka (WNI) ke pesawat negara lain. Saat seperti ini, begitu terasa pentingnya hubungan baik," kata Hariyadi.

Selama kurang lebih seminggu, lebih dari 100 orang tewas dan 2.000 orang luka-luka akibat demonstrasi menentang pemerintah Hosni Mubarak. Namun masih belum diketahui secara pasti berapa banyak jumlah polisi dan demonstran yang tewas. Rakyat Mesir menuntut turunnya Hosni Mubarak yang sudah 32 tahun memerintah.

Saat ini banyak negara yang mengirimkan pesawatย  untuk mengevakuasi warga negaranya. Namun proses evakuasi bukan perkara mudah. Ada yang pesawatnya sudah tiba, tapi penumpangnya tidak ada karena calon penumpang kesulitan mencapai bandara di Kairo akibat demonstrasi besar. Antrean penerbangan di bandara juga menjadi kendala.

(vit/nrl)


Berita Terkait