Kuasai Militer & Birokrasi Mesir, Hosni Mubarak Sulit Digulingkan

Kuasai Militer & Birokrasi Mesir, Hosni Mubarak Sulit Digulingkan

- detikNews
Selasa, 01 Feb 2011 07:08 WIB
Kuasai Militer & Birokrasi Mesir, Hosni Mubarak Sulit Digulingkan
Jakarta - Presiden Mesir Hosni Mubarak dinilai masih sulit untuk didongkel, meski aksi unjuk rasa di negara tersebut belakangan ini semakin tidak terkendali. Setidaknya ada dua faktor yang membuat penguasa Mesir selama 32 tahun itu masih cukup kuat: dukungan militer dan birokrasi.

"Bisa dapat dilihat dari sejauh mana militer berpihak. Kalau militer sudah berpihak kepada rakyat, kemungkinan Hosni baru akan jatuh," kata pengamat politik Timur Tengah dari Universitas Indonesia (UI), Yon Machmudi, kepada detikcom, Senin (31/1/2011).

Menurut Yon, saat ini yang paling ditunggu-tunggu adalah statemen dari militer Mesir. Begitu mereka menyatakan masih setia pada Hosni, maka kelompok oposisi termasuk Ikhwanul Muslimin masih sangat berat untuk menumbangkan Hosni.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apalagi bila Hosni melakukan tindakan-tindakan bersama militer seperti penangkapan besar-besaran atau sejenisnya. Masyarakat Mesir akan menjadi takut untuk turun ke jalan dan menuntut Hosni mundur.

Yon menjelaskan, peran militer dalam pergantian kekuasaan di Mesir sangatlah besar. Ditinjau dari sejarahnya, negeri piramida itu tidak pernah mengenal pergantian kepemimpinan yang didahului oleh aksi revolusioner oleh sipil. Selalu saja, pemimpin Mesir jatuh bangun oleh kudeta militer.

"Sebenarnya di Mesir yang terjadi bukan gerakan massa, tapi perubahan itu sering dilakukan dalam bentuk kudeta militer. Hosni sendiri juga berasal dari kelompok militer," ucapnya.

Faktor lain yang membuat Hosni masih cukup kokoh bercokol di Mesir, lanjut Yon, adalah birokrasi. Para pejabat di bawah presiden masih cukup tunduk kepada Hosni.

Yon melihat, percobaan penggulingan penguasa utama di Mesir oleh masyarakat sipil ini terinspirasi oleh gerakan serupa yang terjadi di Tunisia. Kondisi ini ditunjang oleh lamanya Hosni berkuasa serta ketimpangan kondisi ekonomi di Mesir yang semakin melebar.

"Negara-negara di Timur Tengah umumnya mempunyai disparitasnya tinggi. Ekonomi masyarakat sangat rendah, namun mereka melihat kekayaan yang terlalu berlebihan pada elit," katanya.

Situasi di Mesir terus memburuk akibat unjuk rasa menuntut Presiden Mesir Hosni Mubarak mundur dari jabatannya sudah berlangsung 6 hari. Seratusan orang telah tewas dalam demo rusuh tersebut. Beberapa negara memutuskan untuk menarik warga negaranya yang tinggal di Mesir, termasuk Indonesia dan Amerika Serikat (AS). (irw/did)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads