"Rumah ini dibangun relawan dari Magetan selama tiga hari ini. Mereka datang dan membantu kami membangun menara swadaya," ungkap Safari (45) salah satu warga Dusun Gempol, Desa Jumoyo, Kecamatan Salam saat ditemui detikcom Senin (31/1/2011) di sela-sela memantau alur Kali Putih, Magelang, Jawa Tengah.
Jika hanya banjir kecil, maka aliran lahar masih akan bisa ditampung alur Kali Putih sehingga warga tidak perlu mengungsi. Namun jika banjir lahar besar, maka bisa dipastikan tanggul pasir yang dibangun Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu-Opak akan jebol, sehingga warga Gempol harus segera mengungsi ke lokasi aman.
"Dari posisi ini kami bisa memantau arah lahar. Jika kira-kira besar kami segera lari melewati jembatan darurat di atas Kali Putih yang baru. Kendaraan juga sudah kami siapkan di seberang sungai," turut Rakidi (41) warga Dusun Gempol lainnya.
Rakidi mengungkapkan sebenarnya sebagian besar warga Gempol sudah tinggal di lokasi pengungsian sejak November lalu. Namun sebagian pemuda tetap bertahan dengan alasan menjaga keamanan kampung.
Dari pantauan detikcom, menara pemantau lahar swadaya tersebut dibuat dengan sangat sederhana. Tiang penyangga maupun lantai menara dibangun dengan bahan bambu petung. Bambu tersebut dibeli dengan menggunakan uang hasil parkir pengunjung wisata lahar dingin.
Atap menara juga cukup menggunakan kain terpal bekas pengungsian. Sementara bagian tangga naik memanfaatkan bekas kayu rumah-rumah yang hilang atau rusak diterjang banjir lahar dingin.
"Meski sangat sederhana yang penting fungsinya. Kami bisa memantau lahar dingin. Kendalanya jika malam sungai tidak terlihat. Mungkin nanti akan dipasangi lampu sorot," ujar Rakidi.
Rakidi menjelaskan pihaknya juga memantau perkembangan banjir lahar dingin lewat radio komunikasi seperti Handy Talky (HT). Radio komunitas tersebut digawangi oleh relawan Kompag Merapi.
Salah satu relawan Kompag Merapi, Joko Sudibyo, mengatakan untuk wilayah Kali Putih saja pihaknya menyebarkan 30 relawan. Mereka selalu berjaga di sepanjang alur Kali Putih saat terjadi banjir lahar.
"Begitu cuaca mendung rekan-rekan akan bersiap-siap. Mereka akan segera meluncur ke titik-titik yang sudah ditetapkan. Jadi arah dan volume banjir lahar akan selalu terpantau. Ini untuk meminimalisir korban jiwa akibat lahar dingin," ucap Joko.
(fay/fay)











































