Gerakan oposisi yang dinamai 'Gerakan 6 April' itu menyatakan, pihaknya berencana untuk menggalang lebih dari sejuta demonstran turun ke jalan-jalan di Kairo, ibukota Mesir, besok. Beberapa ratus demonstran tetap berkemah di lapangan Tahrir di Kairo pada Senin, 31 Januari dini hari waktu setempat.
Para demonstran tampaknya tak menghiraukan janji Mubarak untuk melakukan reformasi ekonomi dan politik. "Rakyat menginginkan rezim ini jatuh," seru sejumlah demonstran seperti diberitakan Al Jazeera, Senin (31/1/2011).
Situasi di Mesir saat ini terus mencekam. Bahkan Mubarak diberitakan telah memerintahkan militer Mesir untuk menembak para demonstran jika diperlukan. Perintah tembak di tempat ini dikeluarkan Mubarak di tengah meningkatnya aksi demo antipemerintah di berbagai wilayah Mesir.
Media-media lokal menyebutkan, instruksi tembak mati itu dirilis setelah Mubarak bertemu dengan para panglima militernya di markas komando mereka. Pengerahan militer dimulai sejak Jumat, 28 Januari lalu mengingat aparat polisi sudah tidak mampu lagi mengendalikan situasi.
Aksi yang diwarnai bentrokan antara demonstran dan polisi tersebut sejauh ini telah menewaskan setidaknya 150 orang dan ribuan orang lainnya terluka. Aksi demo berdarah ini telah dimulai sejak Selasa, 25 Januari lalu. Para demonstran menuntut pengunduran diri Mubarak yang telah berkuasa selama tiga dekade.
(ita/nrl)











































