Kisah Duka Keluarga Korban Tewas Bom Pekanbaru
Kamis, 06 Mei 2004 16:46 WIB
Pekanbaru - Dewi Sriyanti (16) adalah salah satu korban yang meninggal dunia dalam ledakan bom di ruko Jl Soekarno-Hatta Pekanbaru, Selasa lalu. Gadis berkulit putih dan berwajah ayu ini sudah dua tahun menjadi PRT di rumah Along, pemilik toko sembako yang kini telah roboh karena ledakan bom.Dewi jebolan SMP yang kesehariannya mengenakan jilbab itu ditemukan tewas dengan kaki sebelah kanannya gosong di reruntuhan ruko tersebut. Sebenarnya, sejak dua bulan yang lalu, Dewi gadis pendiam itu sudah mengeluh pada orang tuanya. Dia ingin berhenti bekerja di tempat Along karena tidak ada waktu untuk istirahat.Bayangkan saja, di rumah Along itu, dia mesti membersihkan ruko tiga lantai itu setiap harinya. Ini belum lagi dia memasak serta mengasuh anak Along (Steven) yang berusia 4 tahun. Nyaris, tidak ada waktu istirahat buatnya. Lantas apa saja keluhan dia selama ini pada orang tuanya? Berikut penuturan Armen (43) orang Dewi yang bekerja sebagai buruh bangunan kepada detikcom, Kamis (5/5/2004) di kediamannya Jl Lintas Bangkinang-Pekanbaru:Kapan Anda mengetahui kalau Dewi menjadi korban peledakan bom?Hari Selasa pagi itu, sebagaimana biasanya, saya berangkat bekerja sebagai buruh bangunan. Setiap harinya saya mesti melintasi ruko milik Along dimana anak saya bekerja di sana. Ketika pagi sekitar pukul 07.00 WIB melintas di Jl Soekarno-Hatta, saya melihat ruko milik Along roboh. Jantung saya berdetak kencang. Yang terbayang dalam benak saya, bagaimana kondisi anak saya itu.Apa yang Anda lakukan setelah melihat kondisi ruko itu roboh?Pagi itu saya tidak berangkat bekerja. Bergegas saya menuju roko tersebut. Saya jelaskan pada pihak kepolisian, bahwa anak saya bekerja di ruko tersebut. Dari pihak kepolisian, saya diberitahu bahwa Along pemilik ruko sedang berada di Rumah Sakit Awal Bross. Saya langsung bergegas ke rumah sakit itu. Di sana saya bertemu dengan istri Along. Dia mengatakan tidak tahu persis kondisi anak saya.Saya semakin panik. Saya terus mencari Dewi ke sejumlah rumah sakit di Pekanbaru. Namun tidak saya ketemukan juga. Lebih dari dua jam saya mondar-mandir dari rumah sakit yang satu ke rumah sakit yang lainnya. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke ruko yang roboh itu.Selanjutnya?Saya yakin Dewi masih dalam reruntuhan itu. Saya mendesak pihak kepolisian untuk segera membongkar reruntuhan ruko itu. Saya katakan pada polisi, anak saya masih berada di reruntuhan itu. Saya sempat emosi melihat polisi yang lambat menyelamatkan anak saya. Waktu itu saya bilang ke polisi, Pak, di reruntuhan itu bukan bangkai tikus, tapi di sana ada manusia. Tolong segara ambil anak saya dari reruntuhan itu,.Tapi polisi masih tetap lambat. Baru sekitar pukul 13.00 WIB, sebuah alat berat didatangkan untuk mengevakuasi anak saya. Sekitar pukul 13.30 WIB, barulah diketemukan anak saya dengan kondisi mengenaskan.Sudah berapa lama Dewi berkerja di tempat Along?Lebih kurang suda dua tahun anak saya berkerja sebagai pembantu rumah tangga Along.Betah dia berkerja di sana?Sekitar sebulan yang lalu, tepatnya saat Pemilu, anak saya kembali ke rumah. (Jaraknya sekitar 2 km dari rumah Along). Dia bercerita pada saya dan ibunya kalau dia tidak betah di rumah Along. Dia merasa capek bekerja di sana.Bayangkan saja, dia mesti membereskan ruko Along yang tiga lantai itu. Belum lagi dia mesti menjaga anak dan memasak di rumah Along. Dia sudah meminta berhenti kepada istri Along. Dia tidak tahan lagi bekerja di sana. Apalagi gajinya cuma Rp 300 per bulan.Selama bekerja di tempat Along, untuk pulang ke rumah pun bisa dihitung dengan jari. Sudah dua tahun bekerja di sana, anak saya bisa pulang kerumah pada saat hari lebaran saja. Itu pun hanya satu hari. Siapa yang betah dengan kondisi seperti itu. Padahal kami masih sama-sama di Pekanbaru, tapi jarang betemu.Kenapa Dewi tidak jadi pindah?Sebenarnya anak saya itu sudah berulang kali meminta pada istri Along agar mencarikan penaggantinya. Namun istri Along menolak, alasannya, anaknya yang kecil itu serasi di tangan anak saya. Tapi ketika dia pulang waktu Pemilu kemarin, Dewi bercerita, bahwa dia sendiri belum terima gaji dari Along. Dengan demikian maka suda dua bulan ini gaji anak saya belum dibayar Along.Menurut polisi, apa penyebab Dewi meninggal dunia?Itulah yang kami belum bisa dapatkan. Padahal sebelum Dewi dikebumikan, anak saya itu terlabih dahulu di bawa ke Rumah sakit Polri untuk divisum. Namun hingga saat ini hasil visum itu sendiri belum kami terima.
(nrl/)











































