Komnas HAM Investigasi Bentrok Makassar 11 Mei
Kamis, 06 Mei 2004 16:42 WIB
Jakarta - Sekitar 30 perwakilan mahasiswa UMI Makassar demo ke Komnas HAM. Tim investigasi Komnas HAM sendiri akan ke Makassar pada 11 Mei 2004."Komnas HAM sudah membentuk tim investigasi dan pemantauan yang akan dikirim ke Makassar 11 Mei," kata anggota Komnas HAM Zoemrottin di Kantor Komnas HAM jalan Latuharhari Jakarta Pusat, Kamis (6/5/2004).Dia bersama Hasballah M Saad dan 2 anggota Komnas HAM lainnya menerima 30 perwakilan mahasiswa UMI Makassar. Turut berpatisipasi juga dalam aksi demo dari Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan mahasiswa Universitas Nasional sekitar 200 orang."Tapi jangan terlalu berharap banyak. Karena kewenangan Komnas HAM sesuai UU 26/1999 hanya melakukan pengkajian, pemantauan, mediasi dan penyuluhan. Komnas HAM hanya bisa sampai pada penyelidikan awal sampai projustisia. Penyidikan itu wewenang kejaksaan dan pengadilan harus izin dari DPR," urai Zoemrottin.Para perwakilan mahasiswa UMI Makassar itu mendesak Komnas HAM segera mengusut tuntas peristiwa bentrokan antara mahasiswa UMI dengan polisi pada 1 Mei 2004. Mereka juga menyerahkan sejumlah bukti kepada Komnas HAM.Dua diantaranya merupakan korban bentrokan, yakni Syaiful Alam dan Ahmad Ansar. Keduanya kena pukul di bagian kepala. Mereka menyerahkan bukti berupa baju dan celana berlumuran darah dan sejumlah selongsong peluru, serta sebuah peluru tajam.Mereka menginginkan Komnas HAM segera mengirimkan tim untuk melakukan investigasi ke kampusnya. Mereka juga membantah pernyataan Polri mengenai aksi demo yang dilakukan UMI dengan menutup jalan.Dijelaskan mereka, dua hari sebelumnya polisi mengisukan ke sejumlah sopir angkot agar berhati-hati karena ada aksi mahasiswa yang akan membakar mobil. Saat demo dilakukan mahasiswa, polisi melakukan pemblokiran jalan berjarak 200 meter dari kampus. Padahal mahasiswa tidak menutup jalan.Mahasiswa menilai aksi penangkapan dan pemukulan yang dilakukan polisi sangat sistematis. Sehingga mereka menanggap itu sebagai pelanggaran HAM berat. Apalagi polisi sempat mengeluarkan hardikan kasar dan melecehkan.Syaiful Alam mengaku dihajar di bagian kepala dan muka hingga hidungnya patah. "Padahal saya tidak ikutan demo. Saya sedang duduk sambil ngobrol di fakultas hukum. Tiba-tiba datang polisi yang mengangkut dan memukul saya. Saya bilang saya tidak ikutan. Tapi polisi bilang: Ah sama saja semua," tuturnya.Sedangkan Ahmad Ansar mengaku baru selesai kuliah ketika polisi memukulinya. "Saya dipukul dari ruang kuliah sampai depan gerbang kampus," ujarnya.Menurut catatan mahasiswa, sampai saat ini masih ada 5 mahasiswa yang hilang. Empat diantaranya dilaporkan orang tua ke pihak kampus dan diketahui alamatnya. Sedangkan seorang mahasiswa lagi tidak diketahui identitasnya. Sejumlah saksi mengaku melihat dia terluka tembak di bagian dada. Tapi sampai sekarang, informasi keberadaan mereka terkesan ditutupi.
(sss/)











































