Siti Karsih menceritakan kepada detikcom, Sabtu (29/1/2011) di RS Krakatau Medika Cilegon, Banten. Sebenarnya dia berencana hendak pulang dari Tegal setelah menengok anaknya.
Perempuan berumur 50 tahun ini hendak menyeberang ke Pulau Sumatra untuk pulang ke rumahnya di Riau. Ia memilih untuk tidak turun dari bus yang ditumpanginya dari Tegal, ketika bus telah berada di perut kapal. Ia tidur dalam bus bersama kondektur dan kernet bus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teriakan itu membuatnya terjaga. Dengan bergegas ia keluar dari dalam bus dan mengetahui ruangan telah penuh dengan asap tebal. "Pas tidur, orang pada keluar. Ada asap semua," tutur Siti.
Mengikuti kondektur, Siti berlari ke tangga menuju lantai paling atas. "Dari lantai atas, lantai empat, saya terjun ke laut," imbuhnya.
Sebelum terjun, tubuh Siti telah dibalut pelampung. Namun, Siti mengaku tak tahu cara memakai pelampung ini. Ia mengaku beruntung ada orang yang membantunya.
Siti yang sering menyeberang selat sunda untuk menjenguk anaknya itu mengaku tak pernah ada penjelasan atau petunjuk pemakaian pelampung kepada penumpang kapal. "Saya tak pernah naik kapal dikasih tahu gitu," kata Siti.
Jelang Jumat pagi yang masih gelap itu, Siti juga mendengar ratusan orang berteriak-teriak minta tolong dan menyebut nama tuhan. "Tolong!! Tolong!!, Subhanallah, Allahhuakbar, Astataghfirullahhal'adzim," tutur Siti menirukan teriakan para korban.
Siti bersama ratusan penumpang lainnya selama sekitar 2 jam terapung-apung di lautan. Sempat terlintas di kepalanya ia akan segera mati.
"Mungkin sekitar 2 jam saya terapung. Pikir saya waktu dilaut, matilah saya. Oh tuhan lindungilah aku," kenang Siti yang kini dirawat di RS Krakatau Medika Cilegon, Banten.
Ia dirawat karena terlalu banyak minum air laut dan mengalami memar di sekitar perutnya akibat terbentur badan kapal penolong. (adi/ndr)











































