Saya Akan Makin Dekatkan Rakyat Kedua Negara

Wawancara Dubes R.A Esti Andayani

Saya Akan Makin Dekatkan Rakyat Kedua Negara

- detikNews
Sabtu, 29 Jan 2011 18:25 WIB
Oslo - Hubungan RI-Norwegia saat ini sedang berada di puncak. Tidak hanya di tataran bilateral, tapi juga multilateral. Norwegia bahkan memberi hibah US$ 1 miliar untuk REDD Indonesia.

"Kini saya akan makin mendekatkan hubungan rakyat kedua negara," tekad Duta Besar RI untuk Kerajaan Norwegia R.A Esti Andayani, yang baru 9 bulan menempati pos KBRI Oslo terhitung sejak dia menyerahkan surat kepercayaan kepada Raja Harald V (15/4/2010).

Baru menginjak bulan ke-8 Esti, yang dikenal egaliter dan menghormati para pendahulu, sudah mendapat tugas tidak ringan yakni kunjungan Presiden RI Yudhoyono dalam rangka menghadiri Oslo CFC 2010 atau Konferensi Oslo untuk Perubahan Iklim, sekaligus menjadi co-chairs bersama PM Norwegia Jens Stoltenberg, Desember lalu. Sebelum presiden tiba, perundingan di Oslo yang mengegolkan LoI hibah senilai US$ 1 miliar berlangsung alot sampai pukul 03.00 dinihari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Januari 2011, Esti memimpin partisipasi Indonesia di Reiseliv Oslo dan meraih penghargaan sebagai partisipan terbaik. Di sela-sela kesibukan di Reiseliv, Esti meluangkan waktu untuk wawancara dengan detikcom baru-baru ini. Berikut ini petikannya.

Dapat dijelaskan bagaimana hubungan Indonesia dengan Norwegia saat ini?

Hubungan bilateral Indonesia-Norwegia saat ini sangat baik, sedang di puncak-puncaknya. Ini hasil rintisan sejak lama oleh para pendahulu saya. Juga di multilateral terus meningkat, terutama tahun 2000-an mulai dirintis Human Right Dialogue, di zamannya Dubes Retno. Terus ada lagi Global Intermedia Dialogue yang dipicu oleh adanya kartun pelecehan agama. Ini terus bergulir sampai pada suatu titik di multilateral khususnya dalam isu lingkungan hidup dan perubahan iklim, di mana kita menjadi motor, tuan rumah, juga ketua pada United Nations Climate Change Conference (UNCCC) di Bali (2007).

Ada capaian-capaian atau indikator-indikator lainnya?

Hubungan jelas meningkat tidak hanya bisa dilihat di tataran riil tetapi juga di tingkat kebijakan, ditandai antara lain dengan saling kunjung Presiden ke Norwegia di 2006. Lantas PM Norwegia ke Indonesia pada waktu Global Intermedia Dialgue, tahun itu juga. Ada saling kunjung. Presiden kembali berkunjung ke Norwegia pada Desember 2010 kemarin. Sebelumnya sudah ada saling kunjung antar menteri luarnegeri. Ini semua menunjukkan hubungan yang sangat baik.

Terlihat begitu penting Norwegia melihat Indonesia, mengapa?

Mereka memperhatikan betul bahwa Indonesia mempunyai prospek ke depan, apalagi setelah kita masuk G20. Mereka menyadari bahwa Indonesia menjadi negara strategis untuk mengembangkan hubungan bilateral. Oleh karena itu tahun lalu (2010) Kementerian Luarnegeri Norwegia mengumumkan bahwa untuk 2011 akan dilakukan peningkatan kapasitas Kedubes Norwegia di Jakarta untuk menangani berbagai isu yang sekarang semakin meningkat dengan Indonesia, terutama bidang ekonomi dan lingkungan hidup. Momentum ini harus kita manfaatkan betul. Bagi kita Norwegia juga negara sahabat yang tidak pernah berusaha mencampuri atau mendikte.

Dana hibah Norwegia US$ 1 miliar untuk Indonesia itu tidak kecil. Bagaimana prosesnya?

Hibah untuk Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation/REDD (Pengurangan Emisi dari Penggundulan Hutan dan Degradasi Hutan, red) itu melalui perundingan sangat alot sampai pukul 03.00 dinihari di Oslo. Kita ingin hasrat hibah itu tidak secara lisan, tapi dituangkan secara tertulis. Sebelum presiden datang, tim perunding dari Jakarta di Oslo mengatakan bahwa kalau Anda tidak bersedia menandatangani, maka presiden kami tidak jadi datang. Akhirnya mereka bersedia menuangkan hibah US$ 1 miliar itu secara tertulis dalam LoI.

Hibah akan diberikan bertahap sesuai dengan delivery-nya. Saat ini indonesia sudah berada dalam tahap kesiapan dari 3 tahap yang disepakati, yakni tahap persiapan (2007-2008), tahap kesiapan (2009-2012), dan tahap pelaksanaan penuh (pasca 2012).

Mengapa kepercayaan Norwegia begitu besar?

Mereka percaya pada kita karena mereka melihat bahwa demokrasi kita berjalan dengan baik. Ekonomi kita juga solid, pernah minus saat krisis 1998 kok terus tumbuh dan tidak terdampak oleh krisis 2008. Itu antara lain yang membuat mereka yakin bahwa kita akan sukses.

Greenpeace di dalam negeri mengkritisi kebijakan perhutanan dan produksi CPO Indonesia. Apakah isu ini juga mendapat perhatian di Norwegia?

Di tingkat NGO di Norwegia memang hal itu sempat menjadi perhatian. Pemerintah Norwegia mengikuti dengan cermat bahwa pengalihan lahan menjadi perkebunan adalah lahan yang memang sudah tidak layak lagi untuk hutan. Itu lahan yang sudah terlanjur dan kita tidak membuka lagi lahan-lahan seperti itu. Jadi bukan hutan dialihkan untuk perkebunan. Tidak seperti itu. Ini menjadi bagian dari tugas kami di KBRI untuk menjelaskan.

Bagaimana neraca kedua negara dalam bidang ekonomi?

Di bidang ekonomi juga terus meningkat dan potensi kedua negara sangat besar. Hubungan perdagangan berjalan baik dan aktif, bahkan kini tampak semakin berkembang pesat dan secara berangsur-angsur komoditi ekspor dan impornya menjadi lebih beragam. Perkembangan ini tercermin dari volume perdagangan yang naik 45% dari NOK 1169 juta (2009) menjadi NOK 1695 juta (2010) dengan komposisi nilai ekspor Indonesia ke Norwegia naik 13% dari NOK 772 juta (2009) menjadi NOK 872 juta (2010). Sedangkan impornya dari Norwegia juga naik 109% persen dari NOK 393 juta (2009) menjadi NOK 823 juta (2010), sehingga neraca perdagangan masih memperlihatkan posisi surplus untuk Indonesia sebesar NOK 49 juta.

Kenaikan ekspor Indonesia ke Norwegia meliputi garmen, alas kaki dan perabot. Sebaliknya kenaikan impor Indonesia dari Norwegia disebabkan ada lonjakan drastis impor kelompok manufactures of metals, bahan kimia, dan permesinan.

Terkait isu integrasi yang sedang marak, bagaimana dengan orang Indonesia di Norwegia?

Menurut saya orang Indonesia itu mudah berintegrasi. Saya belum pernah mendengar warga Indonesia di Norwegia mendapat perlakukan kurang menyenangkan. Orang Indonesia dikenal tekun, jujur dan loyal. Di Oslo dan sekitarnya jumlah warga kita ada 260 orang, di seluruh Norwegia totalnya ada 740 orang, termasuk 81 orang mahasiswa.

Bagaimana hubungan di bidang sosial budaya dan antar-masyarakat dua negara yang secara geografis terpisah sangat jauh ini?

Hubungan di bidang ini boleh dikatakan juga sangat erat. Apalagi dikaitkan dengan banyaknya mahasiswa Norwegia yang belajar pra-universitas di Indonesia, terutama di Bali. Tercatat ada empat college yang bekerjasama dengan berbagai yayasan di Indonesia dan Universitas Udayana dalam pengiriman mahasiswa. Sebaliknya kita juga sudah punya kursus Bahasa Indonesia untuk masyarakat Norwegia di Oslo dan sekitarnya. Juga ada grup kesenian yang melibatkan warga Norwegia pecinta kebudayaan Indonesia.

Kegiatan kebudayaan dan kontak antar-masyarakat ini akan terus kita tingkatkan untuk semakin mengangkat awareness dan popularitas Indonesia, yang muaranya akan mendukung ekonomi. Termasuk partisipasi kita di Reiseliv 2010, yang mendapat penghargaan The Best Exhibitor Award. Bagaimana kita mau menjual, kalau kita kurang dikenal? Ini momentum sangat baik bagi saya. Ada capaian-capaian itu dan saya harus menjaga betul agar semua tetap terus bergulir.

R.A Esti Andayani, Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh untuk Kerajaan Norwegia dan Republik Islandia.

Lahir: Yogyakarta, 31 Januari 1957. Pendidikan Formal: Fakultas Sosial Politik Universitas Indonesia (1983), Karir: Direktur Kerjasama Teknik, Ditjen Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu RI (2010-2005), Direktur Komoditi dan Standardisasi, Ditjen Ekonomi Multilateral, Keuangan dan Pembangunan Kemlu RI (2005-2004), Konselor Ekonomi pada Misi Indonesia untuk PBB di Genewa, Kasubdir Kerjasama Ekonomi, Direktorat Hubungan Ekonomi Negara-negara Berkembang Kemlu RI (2002-1999), Sekretaris II Sosial Ekonomi pada Misi Indonesia untuk PBB di New York (1999-1994).

(es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads