Seperti dikutip detikcom dari Reuters, Sabtu (29/1/2011), selain menebar kendaraan lapis baja, Mubarak juga memberlakukan jam malam bagi warga Mesir.
"Pasukan bersenjata mulai mengerahkan pasukan diΒ Kairo, Alexandria, dan Suez sebagai tahap pertama dalam melaksanakan perintah memaksakan jam malam mulai dari pukul 6 sore," lapor kantor berita resmi Mesir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedikitnya lima pengunjuk rasa tewas dan 870 luka-luka selama empat hari demonstrasi di Mesir. Mereka terluka karena aparat keamanan menggunakan peluru karet, gas air mata, dan meriam air untuk membubarkan demonstran.
"Bagaimana mereka bisa melakukan ini? Jangankan membantu orang-orang yang berjuang untuk hak-hak kami, orang-orang ini menari dengan setan," keluh salah seorang warga, Zeinab Abdel Fattah.
Dia bahkan menilai pemerintah Mesir pengecut. "Saya tidak peduli politik yang pengecut, tapi aku akan segera bergabung dalam demonstrasi karena aku tidak bisa melihat mereka membunuh anak-anak kita," tegasnya.
Demonstrasi yang terjadi di Mesir selama empat hari ini adalah demonstrasi terbesar dalam sejarah pemerintahan Mubarak. Para pengunjuk rasa berteriak "turun,turun, Hosni Mubarak," sambil melemparkan batu ke arah polisi.
Kondisi di Mesir jauh dari kondusif. Seorang fotografer Reuters melihat orang-orang memasuki salah satu bangunn milik Partai Demokrat dan berjalan keluar dengan kursi-kursi, karpet dan barang-barang lainnya. Jumat (28/1) malam adalah pertama kalinya tentara telah disebar ke jalanan.
(van/van)











































