Mega Umumkan Duet dengan Hasyim di Gedung Pola, Mengapa?
Kamis, 06 Mei 2004 10:02 WIB
Jakarta -
Pasca pemilu legislatif dan makin mendekatnya pemilihan presiden, Presiden Megawati tampaknya mengubah jurus sikapnya. Yang dilakukannya lebih populis. Termasuk juga sikapnya yang akan mengumumkan Hasyim Muzadi sebagai cawapresnya di Gedung Pola. Mengapa? Dipilihnya gedung Pola, menurut sumber detikcom di PDIP, Kamis (6/5/2004), bukan tanpa alasan. Sebaliknya, pemilihan gedung Pola itu dipilih dengan berbagai pertimbangan yang matang, terkait peningkatan citra menjelang pemilihan presiden. Tidak lain dan tidak bukan, gedung Pola dipilih untuk mengembalikan ingatan masyarakat terhadap kebesaran Soekarno, ayah kandung Megawati. Tempat ini dipandang strategis, karena dapat menyempurnakan pesan bahwa Megawati adalah titisan Soekarno. Dan lagi, gedung ini memang bersejarah. Di halaman gedung inilah, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI, pembebasan Indonesia dari belutan penjajah. Satu pesan yang ditangkap, deklarasi Mega-Hasyim ingin mengaitkan masyarakat mengenai tahapan penting yang dilakukan dwi tunggal, Soekarno-Hatta itu. Halaman tempat dibacakannya proklamasi kemerdekaan ini telah dibangun patung 'Proklamasi'. Di sana ada patung Soekarno-Hatta dan di belakangnya ada patung petir. Tugu ini mengisahkan tentang proklamasi Soekarno-Hatta yang kemunculannya bagaikan petir yang menggelegar di 5 benua dan 7 samudera. Dipilihnya gedung Pola oleh Megawati untuk mendeklarasikan pasangan cawapresnya, ini terkait dengan sikap-sikap Megawati yang mengalami perubahan selama ini. Catat saja, saa 1 Mei lalu, tepat di hari Buruh, Megawati secara mengejutkan mengunjungi sebuah pabrik tekstil. Kunjungan Megawati ke pabrik itu diberitakan oleh sebuah stasiun TV swasta agak lama. Di pabrik itulah, Megawati berkomunikasi dengan para buruh. Di tempat itu juga, Megawati ampak di-doorstop oleh para wartawan. Suatu tindakan yang sangat langka dilakukan Megawati. Tidak hanya itu. Dalam catatan pengamat politik CSIS Kusnanto Anggoro, menjelang pemilihan presiden, Megawati tampak melakukan sikap-sikap yang lebih terbuka kepada publik. Sebagai misal, soal pembentukan tim-tim suksesnya. "Tim sukses yang dibentuk untuk memenangkan Megawati ini lebih banyak memberi kesempatan kepada orang luar PDIP. Ini tentu perkembangan yang sangat bagus," kata Kusnanto. Akankah perubahan sikap Megawati ini bisa meningkatkan citranya dan mendongkrak perolehan suaranya dalam pemilu 5 Juli nanti? Kita tunggu saja.
(asy/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































