Fadli Zon: Prabowo Bisa Ambil Alih Kekuasaan Tahun 1998

Fadli Zon: Prabowo Bisa Ambil Alih Kekuasaan Tahun 1998

- detikNews
Kamis, 06 Mei 2004 06:45 WIB
Jakarta - Penulis buku "Politik Huru Hara Mei 98" yang juga dikenal teman dekat Prabowo Subianto, Fadli Zon, menilai Prabowo sebenarnya lebih berpeluang untuk mengambil alih kekuasaan pada tahun 1998 ketimbang Wiranto. Ia pun tak menampik buku yang ditulisnya untuk "menandingi" buku Wiranto yang bertajuk "Bersaksi di Tengah Badai".Kesempatan Prabowo untuk mengambil alih kekuasaan justru lebih besar ketimbang Wiranto, menurut Fadli, karena Prabowo yang saat itu menjabat Pangkostrad sangat dekat dengan petinggi militer lainnya seperti Pangdam Jaya Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin dan Danjen Kopassus Mayjen Muchdi PR."Saat itu Wiranto malah tidak punya kesempatan. Karena kalau dia mengambil alih kekuasaan, justru akan ditentang oleh para petinggi militer di bawahnya," kata Fadli Zon.Rumor adanya rivalitas antara Prabowo dan Wiranto juga dibenarkan oleh Fadli Zon, walaupun sebelumnya kedua jenderal dimaksud telah membantah adanya rivalitas. Lebih jauh mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada tahun 1998 berikut perbincangan detikcom dengan Fadli Zon, Kamis (6/5/2004).Apa yang melatarbelakangi Anda menulis buku ini?Buku ini saya buat untuk meluruskan sejarah karena apa yang ditulis oleh Wiranto dalam bukunya "Bersaksi di Tengah Badai" itu keliru dan datanya tidak akurat. Makanya saya akan meluruskan sejarah ini.Kenapa baru sekarang, saat Wiranto maju di Konvensi Partai Golkar?Saya pikir ini tidak ada hubungannya dengan konvensi. Kenapa baru sekarang? Karena momentumnya saja yang pas dengan bulan Mei saat ini. Jadi tidak ada kesengajaan. Malah saya mempersiapkan buku ini telah lama, tapi karena saya ke London jadi agak telat sebenarnya.Ada yang menarik dalam buku ini. Salah satunya soal adanya rivalitas dua jenderal yakni Wiranto dan Prabowo. Anda bisa menjelaskannya?Memang rivalitas itu ada. Menurut saya, saat itu Prabowo sebenarnya lebihpunya kesempatan daripada Wiranto (untuk mengambil alih kekuasaan). Kenapa? karena Wiranto saat itu sebagai Pangab justru tidak punya kesempatan. Dia tidak punya pasukan seperti halnya Prabowo. Jadi kalau dia mau mengambil alih kekuasaan tidak ada yang mendukungnya. Malahan Wiranto yang bakal ditangkap kalau dia berani saat itu.Prabowo justru yang punya kesempatan, dia sebagai Pangkostrad punya pasukan. Sjafrie dan Muchdi itu orangnya Prabowo dan bukan orang Wiranto. Jadi saya pikir buku Wiranto "Bersaksi di Tengah Badai" itu keliru dan tidak benar. Buku itu adalah kebohongan dan menyesatkan.Kalau punya kesempatan, kenapa Prabowo tidak mengambil alih kekuasaan?Prabowo tidak mau. Karena itu inkonstitusional. Prabowo menjunjung tinggi konstitusi, dia tidak mau. Saya malah dulu meminta dia untuk mengambil alih kekuasaan itu. Setelah kekuasaan diambil, lalu diserahkan kepada kepemimpinan sipil.Saat itu kan sudah terbentuk Komite Reformasi yang dipimpin Nurcholish Madjid. Pada tanggal 14 Mei 1998, justru Wiranto membawa sejumlah jenderal ke Malang. Prabowo dikambinghitamkan oleh Wiranto dengan menyatakan kalau berkumpulnya para jenderal atas permintaan Prabowo.Wiranto sampai di Jakarta ketika semuanya sudah rusuh. Sebagai Pangab ketika itu, justru Wiranto tidak berada di lapangan dan tidak memerintahkan untuk mengamankan Jakarta yang telah rusuh. Justru Prabowo yang kemudian mengambil insiatif untuk mengamankan Jakarta.Jadi sudah jelas Wiranto melakukan pembiaran dan ini dapat disebut sebagai pelanggaran HAM. Bahkan menurut pengakuan Kivlan Zein, Wiranto malah melarang untuk menurunkan pasukan. Tapi pengakuan Kivlan ini memang tidak terungkap dalam buku ini. Tapi saya akan masukan di edisi revisi.Bagaimana dengan adanya isu sekelompok massa berambut cepak yang melakukan provokasi?Inilah yang harus diungkap dan hasil dari penyelidikan TGPF yang pernah dibentuk, informasi itu telah ada. Ini yang harus diusut siapa yang bertanggungjawab. Tapi memang saat itu mungkin saja ada provokasi yang kemudian disambut dengan spontanitas dari massa yang telah marah.Anda sangat dekat dengan Prabowo?Ya, saya bersahabat dengan dia. Wajar kan. Seperti anda bisa bersahabat dengan siapa saja. (ani/)


Berita Terkait