KPAI Minta Pemerintah Lindungi ABG dari Bahaya Terorisme

KPAI Minta Pemerintah Lindungi ABG dari Bahaya Terorisme

- detikNews
Rabu, 26 Jan 2011 21:39 WIB
Jakarta - Tertangkapnya sejumlah remaja atau anak baru gede (ABG) dalam penggerebekan terduga pelaku terorisme di Sukoharjo dan Klaten mengagetkan banyak pihak. Karena itu untuk melindungi remaja dari gerakan radikal pemerintah diminta melakukan tindakan.

"Tertangkapnya terduga terorisme yang masih berusia belasan tahun tersebut akibat adanya malpraktek pengajaran agama di lingkungannya. Pemerintah dan masyarakat harus memproteksi anak dari ideologi menyimpang," kata Wakil Ketua Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Niam Sholeh di Jakarta, Rabu (26/1/2011).

Pria yang akrab disapa Niam ini menjelaskan, tertangkapnya terduga teroris tersebut, menggambarkan bahwa proses ideologisasi serta doktrinasi tersebut dilakukan sejak usia anak-anak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Doktrinasi terhadap terduga terorisme tersebut tidak mungkin dilakukan dalam waktu singkat. Pasti butuh proses, dan dipastikan doktrinasi tersebut dilakukan saat mereka dalam masa anak-anak," ujarnya.

Untuk mencegah mata rantai terorisme yang bersemai di kalangan anak dan remaja, KPAI mengajak pemerintah bersama masyarakat untuk terus menerus mengajarkan paham keagamaan yang moderat.

"Pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama juga harus hadir. Di sini relevan sekali penambahan jam pelajaran agama serta praktek keberagamaan yang moderat di kalangan anak-anak, baik di dalam maupun di luar sekolah," imbuhnya,

KPAI berharap Pemerintah dan masyarakat bahu membahu memberikan dukungan kepada lembaga keagamaan untuk menciptakan situasi kondusif bagi pemenuhan hak anak anak di bidang keagamaan.

"MUI telah memberikan panduan keagamaan, yang membedakan antara terorisme, bom bunuh diri dan jihad. Ini perlu disosialisasi ke masyarakat. Anak-anak harus dilindungi dari radikalisme serta liberalisme  pemahaman keagamaan. Radikalisme agama akan menyebabkan anak-anak cenderung intoleran dan melahirkan terorisme, sementara lebiralisme melahirkan anak-anak yang permisif, hedonis, dan tidak taat dalam beragama," tutupnya.

Polisi pada Selasa (25/1) menangkap 7 terduga teroris. Ketujuh orang tersebut bernama Agung, Arga Wiratama, Joko Lelono, Nugroho Budi, Tri Budi Santoso, Yuda Anggoro. Keenamnya ditangkap di Klaten. Sedangkan seorang lainnya, Roki Apris Dianto, ditangkap di Sukoharjo.
(ndr/gah)


Berita Terkait