Hama yang disebut warga setempat sebagai hama mentek atau hama beureum ini, tersebar di 18 kecamatan. Akibat hama tersebut, daun padi menjadi layu dan berubah warna. Bulir-bulir biji padi pun menjadi kosong. Di luar 609 hektar ini, sudah ada 123 hektar yang terlanjur gagal panen.
"Saat ini di Garut sudah tercatat 123 hektar lahan pertanian yang gagal panen akibat terserang hama tungro," ujar Kepala Seksi Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman Pangan dan Holtikultura, Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Tatang YD, Rabu (26/1/2011).
Tatang mengaku pihaknya belum menemukan obat penawar atau pestisida untuk melumpuhkan hama tungro yang dikhawatirkan akan berdampak terjadi penurunan hasil produksi pertanian di Kabupaten Garut tersebut.
"Salah satu cara untuk mengatasi serangan hama, mengganti tanaman padi dengan jenis tanaman lainnya selama tiga musim, karena tempat hidup virus berada di batang pohon padi. Setelah tiga musim virus tersebut akan mati," tambahnya.
Untuk menghindari gagal panen, para petani terpaksa memanen padi lebih awal sebelum masa panen tiba. "Supaya tidak terlalu rugi, saya panen lebih awal, lumayan meskipun hasilnya hanya mencapai 20 persennya saja," ungkap Yusuf Jaelani, petani asal Kelurahan Cimuncang, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut.
(fay/nrl)











































