"Hasil sensus penduduk terakhir menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 237,6 juta jiwa. Atau bertambah 32,5 juta jiwa dari tahun 2000. Angka ini merupakan jumlah yang sangat besar di dunia, dan menduduki peringkat ke-4 setelah China, India, dan Amerika Serikat," ujar Menko Kesra Agung Laksono.
Hal itu disampaikan Agung saat acara Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di Kantor BKKBN, Jl Permata, Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Rabu (26/1/2011).
Menyikapi pertumbuhan jumlah penduduk yang selalu bertambah dari tahun ke tahun, maka Pemerintah bertekad melakukan revitalisasi program Keluarga Berencana (KB). Pasalnya, dengan kuantitas penduduk Indonesia saat ini, kualitas penduduk Indonesia masih cukup rendah.
"Apabila dilihat ada urutan Human Development Index (HDI) sebesar 108 dari 130 negara," jelas Agung.
Harapannya, dengan revitalisasi program KB, diharapkan laju pertumbuhan penduduk (LPP) Indonesia bisa diturunkan menjadi 1,1 persen per tahun di tahun 2015, sesuai target Milennium Development Goal's (MDG's). Juga menurunkan Total Fertility Rate (TFR) atau angka kelahiran per wanita per tahun.
"Laju pertumbuhan penduduk atau LPP Indonesia harus diturunkan menjadi 1,1 persen per tahun. Sedangkan total fertility rate (TFR/jumlah anak per wanita) harus dikurangi menjadi 2,1 persen," paparnya.
Menurut BPS, TFR Indonesia terus menurun dari tahun ke tahun yaitu 6 (1971), 5 (1980), 4 (1985), 3(1990), 3 (1991); 2,85 (1994); 2,65 (1998); dan 2,59 (1999).
Diharapkan, penurunan angka LPP dan TFR ini bisa meningkatkan kualitas penduduk di bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi. "Serta menata mobilitas persebaran penduduk. Sesuai dengan daya dukung alam dan lingkungan," tutur politisi Golkar ini.
(nwk/nrl)











































