Protes Pendidikan Mahal, 10 Aktivis Jalan Kaki Salatiga - Semarang

Protes Pendidikan Mahal, 10 Aktivis Jalan Kaki Salatiga - Semarang

- detikNews
Rabu, 05 Mei 2004 15:03 WIB
Semarang - Tindakan protes memang bisa dilakukan dengan cara apa saja. Contohnya, 10 aktivis Salatiga. Untuk memperingati Hardiknas, mereka yang terdiri dari tukang becak Otto Mayor, kernet angkot Mister Glenn, dan 8 anggota HMI Salatiga rela berjalan kaki dari Salatiga - Semarang (50 KM) memprotes mahalnya biaya pendidikan.Ke-10 aktivis tersebut mengambil start di kampus IAIN Salatiga, Jl. Tentara Pelajar, pada jam 09.00 WIB kemarin. Dari sana, mereka bergerak menuju pemerintah daerah Salatiga dan langsung ke Semarang. Tepat pukul 19.00 WIB, mereka tiba di Kantor Gubernur Jateng, Jl. Pahlawan. Setelah menginap semalam di kantor tersebut, Rabu (5/5/20004) berniat menemui Gubernur Mardiyanto. Sayang, orang nomor satu di Jateng itu tidak ada, sehingga oleh pegawai Kesbang Linmas S Prayitno mereka diminta datang lagi lain waktu. Akhirnya, mereka pun menerima tawaran itu.Otto Mayor menceritakan bahwa sepanjang perjalanan Salatiga - Semarang mereka menyebarkan pamflet ke pengendara jalan dan masyarakat yang dilaluinya. "Pamflet itu berisi ajakan untuk menyerukan pendidikan murah," kata Mayor kepada detikcom di depan Kantor Gubernur Jateng."Negara tidak berpihak pada rakyat kecil dalan urusan pendidikan. Lihat saja, biaya pendidikan kan kian mahal. Sekolah seperti menjadi mesin-mesin industri yang hanya mengeruk keuntungan semata," lanjutnya.Untuk itu, kata dia, dirinya menolak kapitalisasi pendidikan. Dirinya dan temannya juga menuntut pendidikan murah bagi rakyat dan meminta pemerintah menaikkan anggaran pendidikan menjadi 30% dari APBN.Sedangkan, menurut salah satu peserta, Glenn, aksi yang mereka lakukan hanyalah simbol keprihatinan terhadap masyarakat yang tidak bisa mengakses pendidikan. "Banyak sektor masyarakat yang masih belum terjangkau pendidikan kita. Misalnya, loper koran, tukang becak, kernet angkot, nelayan, dan lain sebagainya," ujar Glen.Ke-10 aktivis itu akhirnya meninggalkan kantor gubernur tanpa hasil apa pun. Mereka berharap Gubernur Mardiyanto akan mengundang mereka untuk berdialog. Meski terlihat kecewa, mau tak mau mereka harus menerima kenyataan tersebut. (nrl/)


Berita Terkait