Hal ini diungkapkan oleh Iswantoro, seorang awak bus rute Jogja-Magelang. Dia ditemui reporter detikcom di Terminal Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, Selasa (25/1/2011).
"Sekarang yang laris malah andhong dan ojek. Pendapatannya bisa naik 200 persen,” ujar Iswantoro.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita harus berputar lebih jauh sehingga memerlukan solar lebih banyak. Jarak tempuh juga memakan waktu yang lama karena arus dialihkan,” jelas Rawito, awak bus yang juga ditemui di Terminal Muntilan.
Awak kendaraan angkutan umum lantas membebankan bertambahnya biaya operasional itu kepada penumpang. Dia mengakui, naiknya ongkos merupakan inisitif dari awak angkutan untuk mensiasati lonjakan biaya operasional. Terutama untuk bus umum rute Muntilan–Salam dan Muntilan-Magelang-Tempel, Sleman.
“Awalnya Rp 5 ribu sekarang Rp 15 ribu. Kalau bus AKAP (antar kota antar propinsi) Semarang-Jogja yang lewat jalur Solo naik jadi Rp 18 ribu dari Rp 17.500 normalnya. Kalau nggak naik, kami makan apa?” urai Rawito.
Kepala Dinas Perhubungan Magelang, Ismi Masrifah, yang dikonfirmasi melalui telepon membenarkan terjadinya kenaikan tarif angkutan umum. Kenaikan itu merupakan dampak pengalihan rute angkutan AKDP dan AKAP menyusul terjadinya banjir lahar dingin.
“Kejadian ini akan kami koordinasikan ke Dinas Perhubungan Jateng. Pengalihan jalur untuk AKAP Semarang-Jogja melalui Solo memang benar tetapi itu saat terjadi banjir lahar,” ujar Ismi.
(lh/lh)










































