Ledakan bunuh diri, yang menewaskan sedikitnya 35 orang dan melukai sekitar 150, dianggap sebagai kegagalan Putin untuk menghentikan pemberontakan setelah lebih dari satu dekade berkuasa.
Insiden ini juga membuat Medvedev menunda keberangkatannya ke Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, di mana Rusia sangat berharap di forum tersebut bisa menarik investasi dan menarik lebih banyak uang untuk memodernisasi ekonomi. Medvedev pun bersumpah untuk menemukan dan menghukum mereka yang bertanggung jawab.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Glen Howard, presiden dari Jamestown Foundation yang berbasis di Washington, mengatakan insiden ini akan "lebih memperburuk ketegangan yang diciptakan oleh sayap kanan di Moskow."
Namun analis keuangan tersebut mengatakan, para investor di Rusia, seperti warga Rusia sehari-hari, terbiasa dengan serangan teroris. Pasar pun diduga tidak terlalu terpengaruh dengan insiden ledakan bom yang telah menewaskan 35 orang tersebut.
"Moskow tak akan menangis," kata John Winsell Davies, Manager Keuangan Wermuth Asset Management - mengutip judul film Soviet yang melambangkan sikap keras kebanyakan orang Rusia dan investor dalam negeri.
"Saya tidak berpikir setiap investor besar akan tergoyahkan oleh serangan bom dari berinvestasi di Rusia setiap perusahaan besar," kata Zsolt Papp, dari UBP Asset Management di Zurich.
"Rusia adalah sebuah negara yang stabil secara politis, sangat stabil, ... dan faktor lain seperti harga minyak memainkan peran yang jauh lebih besar," katanya.
Tapi ledakan itu merupakan pukulan baru untuk citra Rusia di luar negeri.
Medvedev tampaknya tidak mungkin untuk membatalkan perjalanannya ke Davos, di mana pesan utamanya akan menggaet investor asing untuk masuk ke negeri pecahan Uni Soviet itu. (anw/anw)











































