Lulus UAN Susah, Tapi Dapat Ijazah Persamaan Gampang
Selasa, 04 Mei 2004 15:54 WIB
Bandung - Masih berkisar soal pro-kontra Ujian Akhir Nasional (UAN). Jika pemerintah memang ingin meningkatkan mutu lulusan SMU, maka seharusnya dilakukan secara menyeluruh. Jangan di satu sisi siswa untuk lulus SMU dipersulit. Namun di sisi lain, mereka yang ingin mendapatkan ijazah persamaan SMU justru diperlonggar. Walhasil, peningkatan kualitas pendidikan di sini tidak akan pernah tercapai.Pandangan ini dikemukakan Pelatih Tim Olympiade Matematika, Ir Teddy Setyawan MSc dalam perbincangannya dengan detikcom di Bandung, Selasa (4/5/2004).Menurut Teddy, yang kini sedang melatih sekitar 15 siswa berprestasi di kota Bandung untuk diikutkan dalam Olympiade Matematika Internasional (IMO), jika dilihat dari hasil pra UAN yang baru lalu, dirinya memperkirakan siswa SMU di Kota Bandung saja yang bisa lulus hanya sekitar 70%. "Kalau secara nasional, saya kira memang angkanya akan lebih kecil lagi," tuturnya.Untuk siswa di perkotaan, soal-soal UAN jika dilihat dari kisi-kisi maupun yang muncul dalam Pra UAN kemarin, relatif cukup berat untuk siswa yang kurang mengasah diri. "Kalau siswa-siswanya tekun belajar dan berlatih, soal dalam Pra UAN itu semestinya bisa dikerjakan dengan baik. Angka kelulusan 4,01 tidak akan menjadi masalah," kata Teddy lagi.Namun sama halnya dengan pendapat para pakar dan pengamat pendidikan yang lain, Teddy juga mempertanyakan soal belum meratanya kualitas pendidikan, terutama di daerah marjinal.Namun lepas dari soal itu, Teddy sendiri memang mempertanyakan soal dipersulitnya kelulusan siswa itu. Sementara di pihak lain, untuk mendapatkan ijazah persamaan justru dipermudah. "Ini kan berarti logikanya terbalik. Orang yang sudah setengah mati mau sekolah dan belajar dipersulit. Sedangkan yang tidak sekolah tetapi punya modal, mendapatkan ijazah persamaannya dipermudah," katanya.Teddy menunjuk begitu banyaknya kasus ijazah persamaan yang dimiliki para caleg, dan kemudian dipermasalahkan. "Kalau pemalsuan ijazah, ya tinggal diproses hukum saja. Tetapi bagaimana dengan yang memang mendapatkan ijazah persamaan, padahal dari segi kualitas sebetulnya patut dipertanyakan. Apakah memang dia berhak dan layak mendapatkan ijazah itu," tegasnya lagi.Karena itu, jika kebijakan soal UAN itu sendiri masih pro dan kontra, Teddy cenderung menyarankan agar kriteria kelulusan yang ketat itu justru ditetapkan pada mereka yang menempuh ujian persamaan. "Karena dari segi usia dan waktu, mereka mempunyai waktu yang lebih dari cukup untuk mempersiapkan diri," katanya.Sekadar diketahui, ujian persamaan ini juga disarankan oleh Depdiknas bagi mereka yang tidak lulus UAN.
(nrl/)











































