Saking dinginnya, keenam 'ksatria' yang berdiri di depan pintu State Palace, Ulaanbaatar, Mongolia, pada Senin (24/1/2011) pipinya menjadi kemerah-merahan.
Beberapa delegasi yang hadir untuk mengikuti upacara pembukaan pertemuan APPF menyempatkan berfoto bersama para 'ksatria' itu. Kendati menjadi objek foto, tidak ada senyum yang tersungging di wajahnya. Tanpa ekspresi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Musim dingin yang keras membuat sulit. Terimakasih yang sudah bantu kami di pedalaman. Juga kepada PBB," ucap Tsakhia.
Dia menambahkan, parlemen adalah lembaga utama demokrasi. Karena itu, pertemuan antar parlemen di kawasan Asia Pasifik akan terus memegang peranan penting.
"Hari ini adalah hari kesembilan di bulan sembilan yang merupakan hari terdingin di Mongolia. Tapi kami ingin menyambut Anda semua dengan hangat," kata Tsakhia menutup pidato.
Sementara itu, PM Mongolia Batbold Sukhbaatar, dalam sambutannya menyebut demokrasi Mongolia masih muda. Meskipun ada pertumbuhan ekonomi sebesar 6,1 persen di masa demokrasinya, namun masih banyak masalah yang dihadapi rakyat Mongolia.
Pertemuan APPF yang digelar di Ulaanbaatar kali ini adalah yang ke-19. Sejumlah isu akan dibahas, antara lain masalah keamanan dan politik kawasan, ekonomi dan perdagangan, serta kerjasama regional.
Delegasi Indonesia antara lain diwakili oleh Hidayat Nur Wahid, Sidarto Danusubroto, Azwar Abubakar, Roy Suryo, Iqbal Alan Abdullah, Adisatrya Suryo Sulistio dan Litha Brent. (vit/nik)










































