Aksi Damai Tolak UAN Digelar di Depdiknas
Selasa, 04 Mei 2004 08:50 WIB
Jakarta - Ujian Akhir Nasional (UAN) bagi kelas 3 SMP dan 3 SMU minggu depan diadakan di tengah hingar-bingar penolakan terhadap kebijakan sentralistik itu. Hari ini aksi turun jalan menolak UAN juga akan digelar.Aksi yang disponsori oleh Koalisi Pendidikan (KP) ini digelar pukul 09.30 WIB, Selasa (4/5/2004). Lokasinya, halaman Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Jl.Sudirman, Jaksel. Tema aksi ini adalah menolak UAN dan mendesak pencabutan SK Mendiknas No 153/U/2003 tentang UAN.Koordinator KP, Suparman menjelaskan, aksi ini akan didukung oleh pelajar, orangtua siswa, guru dan pemerhati pendidikan serta aktivis LSM. KP sendiri merupakan gabungan sejumlah ormas, yaitu Lembaga Advokasi Pendidikan, National Education Watch, YLKI, The Center for the Betterment Indonesia, Kelompok Kajian Studi Kultural, Federasi Guru Independen Indoensia, Forum Guru Honorer Indonesia, Forum Aksi Guru Bandung, For-Kom Guru Kota Tangerang, LBH Jakarta, Indonesia for Education Reform, Jakarta Teachers and Education Club, dan ICW.Seperti diketahui, UAN mulai diberlakukan pada 2003 silam. Tiga soal untuk 3 pelajaran yaitu Bahasa Inggris, Matematika dan Bahasa Indonesia, dipasok dari pusat. Nilai kelulusan untuk 3 pelajaran itu minimal 3,01. Jika kurang dari itu, maka siswa tidak lulus tapi masih bisa ikut UAN ulangan.Pada tahun 2004, standar kelulusan UAN dinaikkan menjadi 4,01. Semula, tidak ada UAN ulangan, jadi siswa yang tidak lulus mesti mengulang setahun di kelas 3. Tapi karena banyak diprotes, maka digelarlah UAN ulangan.Tapi ini tetap tidak memadamkan penolakan. Pasalnya, kelulusan siswa dinilai hanya mengedepankan aspek kognitif. Sebab, nilai ulangan harian, raport, atau pun absensi plus nilai perilaku, tidak dijadikan pertimbangan dalam kelulusan. Selain itu, ongkos UAN tahun ini dari pusat cukup mahal, yaitu Rp 260 miliar, belum termasuk subsidi masing-masing pemda, dan juga iuran per siswa masing-masing Rp 30-50 ribu.Selain boros, UAN juga dinilai tidak adil. Pasalnya, sekolah di pucuk gunung dan di Jakarta, akan mendapatkan soal yang sama. Banyak sekolah dengan mutu pas-pasan, mengeluh, karena tidak punya alat listening untuk ujian Bahasa Inggris yang disyaratkan UAN. Depdiknas sendiri belakangan menyatakan, tingkat kesulitan UAN akan dibedakan, melihat kondisi kemajuan mutu pendidikan di daerah yang bersangkutan. Sementara itu, diprediksi 50% siswa SMP/SMU di Jabar tidak akan lulus dalam UAN tahun ini sehingga dikhawatirkan akan memicu meningkatnya angka putus sekolah. Bagaimana persiapan UAN putra-putri Anda? Ceritakan pada kami di redaksi@staff.detik.com.
(nrl/)











































