Detik-detik Hasyim Muzadi Terima Pinangan Mega
Senin, 03 Mei 2004 13:09 WIB
Jakarta - Tarik menarik antara Golkar dan PDIP memperebutkan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi cukup menarik dan menegangkan. Mereka yang menjadi tim lobi, merasakan bagaimana alotnya meyakinkan Hasyim Muzadi untuk mau bergabung ke salah satu pihak. Apakah berpasangan dengan capres Golkar Wiranto atau memilih capres PDIP Megawati Soekarnoputri. Hasyim Muzadi sendiri sampai saat ini belum menyatakan resmi menjadi cawapres berpasangan dengan Megawati. Namun, hampir seluruh pengurus DPP PDIP sudah menyebutkan pasangan Mega adalah Hasyim. Demikian juga orang-orang PBNU sudah tahu Hasyim lebih memilih Megawati dibanding berpasangan dengan Wiranto. Dan Golkar sudah akan mengganti cawapresnya dengan Sholahudin Wahid atau sering disebut Gus Sholah. Lalu kapan resminya Hasyim memilih Mega? Banyak yang belum tahu mengenai adanya tarik-menarik antara kedua kubu, sampai akhirnya Hasyim menjatuhkan pilihan.Beberapa sumber detikcom, baik dari kubu Golkar, PDIP maupun orang-orang dekat Hasyim Muzadi menceritakan bahwa pendekatan kepada Hasyim mulai tampak ketat dan serius saat terjadi acara halaqoh NU di Surabaya, Senin (26/4/2004). Dalam forum tersebut berkumpul para kiai-kiai NU. Dan yang lebih penting lagi adalah pertemuan tertutup para kiai dengan Megawati Soekarnoputri dan Wiranto yang dilakukan bergantian. Sumber di PDIP menyatakan bahwa dalam pertemuan tersebut Megawati sudah sharing dengan ulama kemungkinan akan gandeng NU terutama Hasyim Muzadi. Namun baru akan diputuskan dalam Rapimnas PDIP yang dibuka esok harinya, Selasa (27/4/2004).Sedangkan dalam pertemuan Capres Golkar Wiranto dengan kiai NU pada hari Selasa (27/4/2004), mantan Panglima TNI ini juga menawarkan ajakan yang sama. "Pada waktu pertemuan itu, para kiai dan ulama NU sangat antusias mendukung Pak Wiranto. Termasuk Pak Hasyim, sehingga membuat kami sangat optimis akan berhasil gandeng Pak Hasyim. Apalagi beberapa kiai menyebut soal pimpinan harus laki-laki segala macam," kisah Yahya Zaini, salah seorang tim sukses Partai Golkar. Namun perkembangan politik cepat sekali berubah. Rapimnas PDIP hari Selasa (27/4/2004) merekomendasikan cawapres PDIP 2 orang. Pilihan pertama Hasyim Muzadi dan kedua Hamzah Haz. Namun hampir bulat sudah mengarah ke Hasyim, sehingga sore itu juga Mega mengutus 2 orang tokoh senior PDIP, Sabam Sirait dan Soetardjo Soerjoguritno menemui Gus Dur di kantor PBNU. Gus Dur tetap tak merestui, sehingga pertemuan hanya 15 menit.Mengetahui PDIP serius mengincar Hasyim, kubu tim sukses capres Partai Golkar, Kamis (28/4/2004) langsung mengadakan rapat. Hasil rapat, Golkar mengutus Slamet Efendy Yusuf untuk menemui Hasyim. Antara Slamet dan Hasyim tergolong dekat, karena Slamet Efendy Yusuf pernah menjadi atasan Hasyim Muzadi saat sama-sama menjadi pengurus GP Anshor. Slamet ketua umum, dan Hasyim salah seorang wakil ketua.Pertemuan empat mata yang dilakukan Hasyim dan Slamet usai acara isthiqhotsah di kantor PBNU, Jl Kramat Raya masih ngambang. Sampai menjelang tengah malam, belum ada deal, sampai Slamet ikut dalam satu mobil Hasyim pulang ke rumah Hasyim di Jl. Dukuh Patra Kuningan nomor 91. Karena masih ada pertemuan lanjutan, detikcom mengikuti Hasyim yang dikabarkan pulang ke rumah orang dekat Megawati, yakni Rini Suwandi yang juga Memperindag.Sampai di rumah Rini, Jl Taman Patra Kuningan X mobil yang ditumpangi Hasyim tak ada. Dari sumber orang dekat Rini, memberitahukan bahwa Hasyim tinggal di rumah lamanya, yang jaraknya hanya sekitar 1 Km. Yakni di Jl Dukuh Kuningan. Sampai di rumah yang ditempati Hasyim, sudah banyak tamu-tamu, terutama dari tim sukses Wiranto. Tampak Priyo Budi Santoso dan kawan-kawannya serius melakukan pembicaraan dengan Hasyim. Namun, Slamet Effendi Yusuf sudah tak tampak. Tim pelobi sudah diganti oleh Priyo Budi Santoso dan kawan-kawan. Belum juga usai pertemuan, sekitar pukul 24.00 WIB datang Didik Suwandi, suami Rini Suwandi, yang langsung menjemput Hasyim. Didik Suwandi tanpa sungkan langsung menemui Hasyim, dan dalam waktu singkat berhasil menarik Hasyim keluar rumah.Usai pertemuan itu, Priyo kepada detikcom menyatakan optimis Hasyim akan menjadi cawapres Golkar. "Banyak kemajuan. Saya optimis duet Hasyim dengan Wiranto terlaksana," kata Priyo.Namun yang mengagetkan, Hasyim menjelang dinihari itu dibawa ke rumah Rini. Di sana sudah menunggu suami Megawati, yakni Taufik Kiemas. Hasyim sampai menjelang pagi melakukan pembicaraan serius dengan Taufik. Hal tersebut dilakukan karena paginya sudah harus ke Jawa Timur dan ke Jawa Tengah untuk menemui Gus Mus dan Kiai Sahal Mahfud. Sorenya, usai bertemu dengan Gus Mus dan Kiai Sahal, Hasyim kembali ke Jakarta. Menurut sumber detikcom, sampai di bandara Cengkareng Hasyim tidak langsung pulang, tetapi langsung menuju rumah Megawati di Jl Teuku Umar. Beberapa tim sukses Golkar yang ingin menemui Hasyim, Jumat malam tak ada yang berhasil. Kabarnya, setelah ketemu Sahal Mahfud dilanjutkan pertemuan dengan Megawati inilah, Hasyim menerima lamaran Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.Baru Jumat pagi (29/4/2004) tim sukses Golkar berhasil menemui Hasyim Muzadi di kediamannya Jl Dukuh Patra Kuningan, pukul 08.00 WIB. Tim Golkar yang diutus adalah Ketua DPD Golkar Jatim Ridwan Hisyam dan Yahya Zaini. "Ya Jumat pagi saya menemui Pak Hasyim bersama Ridwan Hisyam. Dalam pertemuan tersebut, Pak Hasyim sudah menyatakan agar Golkar menghubungi Sahal Mahfud. Kemudian saya kemukakan rencana Pak Akbar dan Wiranto siang hari habis Jumatan resmi akan meminang Pak Hasyim sebagai Cawapres," kata Yahya Zaini.Dan benar, saat lamaran disampaikan, Hasyim mengatakan persis seperti yang disampaikan pagi harinya, agar Golkar menghubungi atasan Hasyim, yakni KH Sahal Mahfud, Rois Am NU. "Wah ini pertanda penolakan secara halus," ungkap salah seorang pengurus Golkar yang ikut pertemuan itu.Akhirnya Golkar ambil 2 alternatif. Pertama mengirim Slamet Efendy Yusuf untuk menemui KH Sahal Mahfud dan menyiapkan pengganti dengan mengadakan rapat harian DPP Golkar, Jumat malam. dan keluarlah nama pengganti Hasyim, tak jauh dari orang PBNU juga, yakni Sholahudin Wahid yang juga adik Gus Dur.Namun, Golkar juga masih mencoba mendapatkan Hasyim dengan cara menemui Sahal Mahhfud. Maka, Sabtu pagi berangkatlah Slamet ke Jawa Tengah. Ternyata setelah menceritakan kronologinya, KH Sahal Mahfud menyatakan bahwa soal cawapres kewenangan sepenuhnya ada pada Hasyim Muzadi. Sahal mengaku tidak berwenang memutuskan hal tersebut, karena itu dianggap hak pribadi Hasyim. Dan pupuslah sudah keinginan Golkar memperebutkan Hasyim Muzadi untuk dijadikan "pengantin" dipasangkan dengan Wiranto. Hasyim memilih lebih "sreg" menerima pinangan Megawati menjadi pasangannya.
(jon/)











































