Setahun Terakhir, 22 Guru Tewas di Aceh
Minggu, 02 Mei 2004 21:17 WIB
Jakarta - Sebanyak 22 orang guru tewas di berbagai daerah di Aceh, dalam berbagai aksi kekerasan yang terjadi dalam setahun terakhir ini. "Data terakhir yang kami terima dari wilayah menyebutkan sedikitnya 22 orang guru meninggal dunia dibunuh kelompok bersenjata Gerakan Aceh Merdeka, selama pelaksanaan darurat militer," ujar Plt Kepala Dinas Pendidikan Provinsi NAD, Anas M Adam, kepada pers di sela-sela peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Banda Aceh, Minggu (2/5/2004).Peristiwa kekerasan yang menimpa guru paling terkini, terjadi pada Kamis dan Jumat pekan ini di daerah Pidie. Rosmawati (47), guru SMU I Kembang Tanjong. Korban yang disebutkan aparat keamanan tewas ditembak anggota GAM ini, tewas bersama ibu kandungnya, Hj Nurhayati (74). Sedangkan korban lainnya adalah Teuku Fakhrurazi (53), guru SMP I Kecamatan Trienggadeng.Meski begitu, menurut Adam, jumlah ini turun dari angka kekerasan terhadap guru pada tahun-tahun sebelumnya. Dikatakannya, Sejak konflik bersenjata kembali memanas pada tahun 1999, tercatat tidak kurang dari 170 guru menjadi korban kekerasan anggota GAM, 50 diantaranya meninggal.Lebih lanjut dikatakannya, selain tewas, guru yang menjadi korban kekerasan itu ada yang mengalami cacat ringan, cacat seumur hidup, atau diculik. "Bagi guru yang menjadi korban kekerasan diberikan santunan oleh pemerintah daerah berupa pengobatan dan perawatan medis dan santunan berupa uang berkisar dari Rp 1 juta hingga Rp 10 juta per orang," katanya, sembari mengatakan, besarnya santuan tergantung APBD daerahyang bersangkutan.
(jon/)











































