Turki Minta Iran Bantu Atasi Krisis Politik di Libanon

Turki Minta Iran Bantu Atasi Krisis Politik di Libanon

- detikNews
Kamis, 20 Jan 2011 15:17 WIB
Turki Minta Iran Bantu Atasi Krisis Politik di Libanon
Ankara - Perdana Menteri (PM) Turki Recep Tayyip Erdogan meminta pemerintah Iran untuk berbicara dengan kelompok gerilyawan Libanon, Hizbullah guna membantu menyelesaikan krisis politik di Libanon.

Hal itu disampaikan Erdogan dalam pembicaraan telepon dengan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad seperti dilansir media Iran, Press TV, Kamis (20/1/2011).

Erdogan berharap agar masalah Libanon bisa diselesaikan secepat mungkin dengan upaya-upaya pemerintah Iran. Ahmadinejad pun mengatakan, pemerintahnya akan melakukan semua upaya untuk menyelesaikan krisis di Libabon.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Semua negara-negara regional harus membantu sehingga pejabat-pejabat Libanon dan pihak-pihak menyelesaikan permasalahan mereka dalam atmosfir kesatuan," tutur Ahmadinejad.

Libanon saat ini dalam kebuntuan politik setelah pemerintahan PM Libanon Saad Hariri tumbang menyusul mundurnya 11 menteri terkait Hizbullah. Pengunduran diri para menteri itu terkait dengan perseteruan atas Pengadilan Khusus untuk Libanon (STL) yang didukung Amerika Serikat. Pengadilan STL tersebut dibentuk untuk menyelidiki pembunuhan mantan PM Libanon Rafik Hariri.

Rafik Hariri dan 20 orang lainnya tewas pada 14 Februari 2005 lalu. Saat itu bahan peledak yang setara dengan sekitar 1.000 kilogram TNT meledak di Beirut. STL dibentuk sekitar dua tahun kemudian untuk menyelidiki peristiwa mematikan itu.

Ke-11 menteri  kabinet dari Hizbullah tersebut mengundurkan diri untuk memprotes penyelidikan STL. Apalagi kabarnya pengadilan tersebut akan menuntut beberapa anggota Hizbullah dalam kasus pembunuhan Hariri. Padahal selama ini Hizbullah telah berulang kali membantah keterlibatan dalam kematian Hariri.

Sekjen Hizbullah Seyyed Hassan Nasrallah telah menyebut pengadilan tersebut sebagai bagian dari proyek berbahaya yang menargetkan kelompok gerilyawan Libanon tersebut.

(ita/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini