Menurut pengamat intelijen, AC Manullang, seorang agen tidak boleh membuka identitasnya. "Kok dia bisa ketahui ada agen. Tidak bisa siapa juga mengetahui seseorang itu agen. Namanya bukan agen kalau diketahui," ujar mantan Direktur Badan Koordinasi Intelijen Negara (BaKIN) itu dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (20/1/2011).
Dia menambahkan, ketika dirinya dulu menjadi Direktur BaKIN, hanya dirinyalah yang dibolehkan bicara mewakili lembaga intelijen. Sedangkan para agennya, tidak boleh berbicara kepada publik karena hal itu sama saja dengan membuka identitasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu siapa JJ Grice? Mengapa Gayus menyebut JJ Grice pernah bercerita dirinya adalah agen CIA? Soal itu, Manullang tidak mengetahuinya.
"Tapi dari pernyataan Gayus itu, bukan tidak mungkin ada keterlibatan intelijen, nggak tahu siapa. Orang biasa tidak mungkin bisa semudah itu jalan-jalan. Itu bukan tidak mungkin di kasus Gayus ada keterlibatan intelijen asing. Kalau itu benar, berarti ada terjadi penyesatan, ada rekayasa," tuturnya.
Manullang menambahkan, bisa saja JJ Grice adalah seorang agen. Lalu Grice dikorbankan oleh lembaga intelijennya. Namun dia berkeras, seorang agen intelijen tidak akan membuka identitasnya.
Manullang mengimbuhkan, pernyataan Dubes AS Scott Marciel tentang Grice bahwa dia tidak kenal orang itu dan kasus Gayus merupakan isu Indonesia, menyiratkan bahwa AS hendak memastikan tidak bermain di kasus Gayus.
Rabu (19/1) kemarin, usai dijatuhi vonis 7 tahun penjara dan denda Rp 300 juta, Gayus menyampaikan curhat. Dalam curhatnya, dia menyinggung nama JJ Grice.
"Berdasarkan cerita John Grice kepada saya, dia adalah agen CIA. Dan semua kegiatannya diketahui dan direstui oleh salah seorang anggota Satgas (Pemberantasan Mafia Hukum)," ujarnya. Satgas menyangkal tudingan Gayus ini dengan menyatakan tak paham soal JJ Grice.
(vit/nrl)










































