Kedubes AS Tak Punya Agenda Tersembunyi Soal Social Media RI

WikiLeaks

Kedubes AS Tak Punya Agenda Tersembunyi Soal Social Media RI

- detikNews
Rabu, 19 Jan 2011 17:58 WIB
Jakarta - Setelah ditunggu cukup lama, WikiLeaks akhirnya merilis dokumen dari Kedubes AS di Jakarta. Disebutkan bahwa para blogger di Indonesia dimanfaatkan untuk kepentingan AS. Pemerintah AS memanfaatkan media sosial di Indonesia mulai dari blog, Facebook sampai Twitter, untuk menyebar pengaruhnya. Kedubes AS pun meminta dana tambahan US$ 100.000 atau Rp 900 juta rupiah terkait hal tersebut.

Namun pihak Kedubes AS menolak berkomentar mengenai keotentikan dokumen yang dibocorkan WikiLeaks tersebut.

"Seperti yang pernah disampaikan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, kebijakan Deplu AS adalah tidak berkomentar mengenai keotentikan dokumen-dokumen yang diterbitkan WikiLeaks," kata Philip Roskamp, Wakil Atase Pers Kedubes AS kepada detikcom, Rabu (19/1/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun Philip menekankan, kedubes AS tidak punya agenda tersembunyi apapun di balik dukungannya pada berbagai kegiatan blogging dan media sosial di Indonesia. "Kami hanya mendukung akses informasi, kebebasan berekspresi dan akses internet," ujarnya.

"Orang-orang yang curiga dengan kami silakan lihat sendiri fan page Facebook, Twitter kami," tuturnya.

Diakui Philip, pemerintah AS ingin memanfaatkan besarnya jumlah pengguna Facebook, Twitter di Indonesia untuk bisa berkomunikasi langsung dengan orang-orang Indonesia. "Selama ini, dengan media TV, koran, kami hanya bisa melakukan komunikasi satu arah. Namun kini kami bisa menggunakan media sosial untuk melakukan komunikasi dua arah," tuturnya.

Philip pun menekankan soal dukungan Kedubes AS melalui kegiatan-kegiatan seperti Pesta Blogger yang telah beberapa kali ikut disponsori oleh Kedubes AS.

"Melalui itu, kami mengajar bagaimana menulis blog dan lainnya. Jadi pesan kami jelas, kami ingin menjalin komunikasi dengan rakyat Indonesia," tandasnya.

Seperti dilansir Guardian, Rabu (19/1/2011), kawat diplomatik yang dibocorkan WikiLeaks mengungkap strategi AS untuk memanfaatkan media sosial di Indonesia untuk kepentingan AS.

"Kedubes AS Jakarta meminta tambahan dana segera untuk menggunakan media baru dan jejaring sosial untuk memaksimalkan raihan online untuk kunjungan Presiden AS yang dijadwalkan akhir Maret 2010," demikian bagian ringkasan kawat tersebut.

Dana yang dimintakan ini besarnya US$ 100.000 atau sekitar Rp 900 juta. "Kami meminta US$ 100.000 dalam pendanaan dari R untuk mendorong keanggotaan fans Facebook kami menjadi 1 juta orang, dan dapat mencapainya dalam 30 hari," demikian permintaan mereka.

Uang sebanyak ini rencananya akan digunakan untuk tiga area. Yang pertama adalah untuk iklan sebesar US$ 60.000.

"Dana ini akan digunakan untuk mempromosikan kunjungan dan fan page (Facebook) sebagai tempat untuk belajar dengan beriklan secara ekstensif di portal online, iklan banner, YouTube, Twitter, dan upaya promosi lain, termasuk blogger-blogger yang melekat, kontes dan hadiah, dan menggunakan teknologi SMS," demikian penjabaran strategi itu.

Strategi kedua adalah dengan Golden Ticket sebesar US$ 15.000. Strategi Golden Ticket ini adalah memberikan kesempatan kepada orang Indonesia yang beruntung, untuk bertemu Presiden AS Barack Obama ketika dia berkunjung ke Indonesia.

Bagaimana cara menggelar Golden Ticket? Kedubes AS menyebutkan dengan platform social media, masyarakat Indonesia diminta memposting kenapa mereka layak bertemu Obama.

"Menggunakan platform social media untuk menghubungkan fans dengan kunjungan Obama, juga membangun kegembiraan sebelum kunjungan dan tindak lanjut setelah kunjungan. Sebagai tambahan, kita bisa berpartner dengan stasiun TV lokal untuk acara finalis dan meningkatkan peliputan. Jika Gedung Putih tidak setuju, alternatifnya adalah 'hadiah impian' berupa jalan-jalan edukatif ke AS," jelas mereka.

Strategi terakhir adalah tim media baru dari Kedubes AS yang akan dibantu pakar pemasaran digital. Tujuannya agar dua strategi sebelumnya bisa segera berjalan dengan waktu yang terbatas. Biayanya sebesar US$ 25.000. (ita/fay)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini