Namun di sisi lain, kejadian tersebut harus membuat Pemprov DKI sadar akan kemacetan di Ibukota. Kemacetan yang sudah akut ini memicu terjadinya stres di jalanan.
"Kita mengutuk keras aksi itu. Tapi ini juga bukti kalau macet bisa membuat orang jadi stres dan kalap, harus ada pembenahan," ujar Ketua Komisi E DPRD DKI, Selamat Nurdin kepada wartawan di kantornya, Jl Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (17/1/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tingkat emosi menjadi tinggi, bukan saya membenarkan tindakan penembakan. Tapi kemacetan memang harus diatasi," terang ketua komisi yang membidangi transportasi ini.
Menurut politisi PKS ini, penanganan macet di Ibukota perlu kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah. Namun kedua lembaga eksekutif sering tidak sejalan dalam program mengatasi macet.
"Pembuatan kereta lingkar, pemda sudah serius tapi pemerintah pusat terkesan ogah-ogahan, ERP juga demikian. Padahal macet itu tidak sekadar masalah Pemda DKI, tapi juga butuh kebijakan pemerintah pusat," terangnya.
Meski Wakil Presiden sudah turun tangan dengan membuat 20 program mengatasi kemacetan, namun hingga kini belum ada pemecahan yang kongkret.
"Saya lihat belum ada pemecahan yang bisa dilakukan antara pemda dan pemerintah pusat. Masih jalan masing-masing," sesalnya.
Nico menembakkan peluru panas berulang kali pada Sabtu 15 Januari 2011 malam. Saat itu Nico sedang menumpang Lancer merah modifnya dan menerobos busway. Tak tahan langkahnya terhalang oleh bus yang sedang menurunkan penumpang di halte, Nico main tembak. Dia juga mengeluarkan lencana angkatan tertentu. Takut ditembak, sopir bus berusaha menjauh. Tapi dikejar Nico dan dia menembak lagi. Polisi memprediksi, penangkapan Nico bisa berujung pada pengungkapan kasus narkoba besar karena Nico menguasai 1.600 butir ekstasi saat diciduk.
(her/nrl)











































