Namun menurut kabel-kabel diplomatik AS yang dibocorkan oleh situs WikiLeaks, Iran telah mengembangkan kontak di lebih dari 30 negara untuk memperoleh teknologi, peralatan dan bahan-bahan mentah yang dibutuhkan untuk memproduksi bom nuklir.
Demikian diberitakan surat kabar Norwegia, Aftenposten seperti dilansir kantor berita Reuters, Senin (17/1/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bertahun-tahun, Iran telah bekerja secara sistematis untuk memperoleh bagian-bagian, peralatan dan teknologi yang dibutuhkan untuk mengembangkan senjata tersebut, sebagai pelanggaran sanksi PBB terhadap program nuklir dan rudal negeri itu," demikian ditulis harian tersebut.
Media Norwegia itu mengutip sumber-sumber yang mengatakan Iran tengah berpacu untuk mengembangkan senjata nuklir sebelum perekonomiannya benar-benar ambruk karena sanksi-sanksi PBB.
"Ada perlombaan antara bom tersebut dan keruntuhan keuangan," tulis Aftenposten mengutip pakar nuklir Prancis.
Menurut kabel Departemen Luar Negeri AS pada Februari 2009 yang dibocorkan WikiLeaks, terbatasnya pasukan uranium di dalam negeri memaksa Iran berurusan dengan para pemasok asing guna mendapatkan uranium. Uranium yang telah diperkaya diperlukan untuk membuat senjata nuklir.
Negara-negara Amerika Serikat, Eropa dan lainnya telah lama menuding Iran diam-diam mengembangkan senjata atom lewat program nuklir yang dijalankannya. Namun Iran bersikeras bahwa program nuklirnya semata-mata untuk menghasil energi guna memenuhi kebutuhan sipil. (ita/fay)











































