Soft Power Indonesia dalam Pembangunan Asia

- detikNews
Senin, 17 Jan 2011 10:31 WIB
Kuala Lumpur - Diplomasi Indonesia selalu menggunakan pendekatan soft power dalam menghadapi berbagai isu internasional dan regional. Kekuatan militer tidak menjadi pilihan dalam politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Karena pendekatan kekuatan inilah, peranan Indonesia di lingkungan internasional, khususnya di kawasan senantiasa diperhitungkan.

Hal itu disampaikan Dubes RI untuk Malaysia Dai Bachtiar ketika menjadi pembicara kunci (keynote speech) dalam International Scientific Conference yang berlangsung di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), 14-15 Januari 2011.

"Sebelum berbicara lebih jauh tentang pembangunan Asia, izinkan saya untuk menjelaskan tentang politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Bahwa filosofi politik bebas-aktif ini merupakan mandat daripada Undang-undang Dasar 1945. Lebih dari itu, karena pengalaman dijajah selama 300 tahun, Indonesia menganut kebijakan anti-kolonialisme," ujar Dai dihadapan 250 peserta konferensi dari 20 negara.

Dai melanjutkan, 'bebas' dalam politik luar negeri Indonesia bermaksud Indonesia mengambil kebijakan dan menentukan posisinya dalam berbagai isu global tanpa intervensi dari pihak luar. Sedangkan 'aktif' bermaksud Indonesia berkomitmen untuk senantiasa ikut serta dalam upaya membangun dan menjaga perdamaian dunia.

Karena itu, menurut mantan Kapolri ini, substansi politik luar negeri Indonesia selalu menggunakan pendekatan soft power dalam diplomasi menghadapi berbagai isu internasional. Pendekatan inilah yang menjadi motor Indonesia dalam ikut serta membangun Asia.

"Melalui pendekatan soft power inilah Indonesia berada di garis terdepan dalam mempromosikan dialog antara agama dan peradaban, di mana dialog tersebut kita yakini dapat memberikan kontribusi secara signifikan tidak saja dalam mengatasi berbagai isu internasional saat ini, tapi juga menjembatani berbagai kesenjangan di antara negara-negara bahkan di dalam wilayah domestik sekali pun," jelasnya.

Bukti nyata keterlibatan Indonesia dalam pendekatan soft power ini, Dai menjelaskan, adalah peran aktif Indonesia dalam sejumlah organisasi kawasan dan internasional seperti Asia-Pacific Regional Interfaith Dialogues; the Bali Democracy Forum; Global Inter-Media Dialogues; International Conference on Islamic Scholars and the New Asia Africa Strategic Partnership (NAASP) International Conference on the Capacity Building for Palestine.

Lebih jauh Dai juga mengatakan, meningkatnya kepercayaan diri dan peranan Indonesia juga didorong oleh peningkatan kinerja ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Misalnya saja, dia mencontohkan tahun 2010 GDP Indonesia mencapai USD 696 juta lebih sehingga menjadi ekonomi terbesar ke-18 di dunia, ke-6 di Asia, dan pertama di Asia Tenggara.

"Bahkan media internasional seperti majalah Foreign Policy menyebut Indonesia sebagai 'Indonesian Tiger' yang disejajarkan dengan negara-negara BRIC (Brazil, Rusia, India, dan Cina) sebagai negara maju baru," kata Dai.

International Scientific Conference (ISC) 2011 yang diselenggarakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) UKM dihadiri lebih dari 250 akademisi Pasca-Sarjana dari 20 negara. Acara tersebut diresmikan Wakil Deputi Konselor UKM Prof Dato Dr Ir Hassan Basri. Sejumlah tarian Indonesia, seperti Tari Pasambahan, Tari Indang, dan Tari Melayu juga diperkenalkan dalam acara internasional tersebut.

(rmd/lrn)