Tentara Tunisia Tembak Mati Dua Pria Bersenjata

Tentara Tunisia Tembak Mati Dua Pria Bersenjata

- detikNews
Senin, 17 Jan 2011 01:27 WIB
Tentara Tunisia Tembak Mati Dua Pria Bersenjata
Tunis - Dua pria bersenjata ditembak mati oleh tentara Tunisia, menyusul makin maraknya peristiwa penembakan oleh orang-orang tak dikenal pasca demo besar-besaran menuntut Presiden Tunisia mundur. Mereka ditembak di dekat kantor Kementerian Dalam Negeri.

"Dua penembak jitu telah menembak mereka dari sebuah bangunan yang terletak di dekat kantor Menteri Dalam Negeri. Kita telah menembak mati mereka," kata pejabat tentara Tunisia yang disiarkan oleh televisi setempat, dan dikutip AFP, Senin (17/1/2011).

Menyusul demo besar-besaran menentang pemerintah yang terjadi di Tunisia, Mantan Presiden Tunisia, Zine al-Abidine Ben Ali, bertolak Saudi Arabia. Ali dipaksa mundur oleh massa yang melakukan demo secara massif.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti dilansir Reuters, Ben Ali dan keluarganya sudah tiba di kota pelabuhan Jeddah.

Kantor berita resmi Saudi Arabia (SPA) melaporkan bahwa pemerintah Kerajaan Saudi Arabia menyambut kedatangan Ben Ali dan keluarganya dan menyatakan dukungan mereka terhadap rakyat Tunisia.

Gelombang unjuk rasa anti pemerintah dan kekerasan polisi menyapu Tunisia minggu ini dan mengakibatkan Ben Ali mengundurkan diri dari jabatannya.

Sebelumnya Perdana Menteri Tunisia, Mohammed Ghannouchi mengatakan akan mengambil alih kekuasaan sementara dari Ben Ali.

Pengumuman pengunduran diri itu disampaikan oleh Ghannouchi lewat saluran TV negara.

Ghannouchi, 69, pernah menjabat menteri keuangan sebelum menjadi perdana menteri pada tahun 1999.

Keadaan darurat Pengunduran diri ini diumumkan tak lama setelah pernyataan keadaan darurat dan pembubaran kabinet serta parlemen. Pemilihan parlemen akan diselenggarakan dalam waktu enam bulan mendatang.

Ben Ali (74), merupakan presiden kedua Tunisia sejak merdeka dari Prancis tahun 1956. Dia mulai menjadi presiden sejak tahun 1987 dan dalam pemilihan 2009 kembali berkuasa dengan merebut sekitar 90% suara.

Namun krebilitasnya ambruk sejak unjuk rasa yang berlangsung selama beberapa pekan ini untuk menentang kenaikan harga pangan, korupsi, dan pengangguran.
(anw/asp)


Berita Terkait