"Laut cuacanya saat ini tidak menentu. Kita lebih baik menahan dulu untuk turun ke laut. Selain berisiko tinggi juga kami semua takut dengan ombak yang tinggi antara 4-5 meter itu," ujar Salamun (40), salah seorang nelayan yang tinggal di bibir Pantai Ayah tepatnya di Desa Pasir, Kecamatan Ayah, Kebumen, saat ditemui detikcom Sabtu (15/01/2011).
Ke-10 pantai itu adalah Pantai Jati Malang, Pantai Jati Kontal, Pantai Keburuhan, Pantai Kepalang, Pantai Bongkot, Pantai Petanahan, Pantai Logending, Pantai Pasir Putih, Pantai Karang Nduwur dan Pantai Ayah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Satu-satu jalan untuk bertahan hidup yaitu dengan memasang jaring-jaring atau biasa
mereka sebut dengan 'jaringan keret' di pinggir pantai. Hasil tangkapan ikan dari jaringan keret itu mereka gunakan sebagai lauk pauk sehari-hari selama cuaca di laut tidak menentu.
"Sebetulnya sih kurang untuk kebutuhan makan sehari-hari. Tapi mau bagaimana lagi. Kita bisanya cum bertahan hidup dengan cara seperti itu," kata Salamun.
Pernyataan sama juga disampaikan oleh Bakir (44), nelayan di kawasan Pantai Jati Malang, Kecamatan Purwodadi, Purworejo. Menurut Bakir saat ini adalah musim paceklik bagi nelayan.
"Saat ini paceklik total mas. Sudah setengah bulan saya tidak melaut soalnya risiko besar dan arah angin tak tentu dan kencang sehingga kita takut," ungkap Bakir.
Bakir menjelaskan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dirinya sengaja beralih profesi sebagai tukang ojek di kawasan pantai itu.
Pantauan detikcom, sejumlah perahu beserta perlengkapan menangkap ikan seperti jaring dan pelampung berderet-deret di parkir di pinggir pantai. Para nelayan menunggu cuaca yang bersahabat untuk melaut.
(nik/nik)











































