Agus Salim Toyib, salah satu kader Ansor mengatakan, Gus Dur adalah sosok yang menjadikan NU memiliki pembaharuan luar biasa. Sebagai organisasi keagamaan, NU dan juga Ansor sebagai salah satu badan otonom di tangan Gus Dur menjadi sangat plural dan bisa diterima semua kalangan.
"Pro dalam hal ini adalah khusus pola pemikirannya. Ketua Ansor mendatang, sudah sepatutnya memiliki pemikiran yang sejalan dengan Gus Dur, sehingga bisa melanjutkan perjuangan yang sudah dimulai beliau," tegas Agus, saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (15/1/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal senada disampaikan Fuad Latief, juru bicara tim pemenangan Choirul Sholeh Rasyid. Bahkan dia berani bersuara lantang, dengan menyebut kandidat yang tak sejalan terhadap pola pikir Gus Dur tak layak melanjutkan pencalonannya.
"Kami dari tim Choirul Sholeh Rasyid hanya tidak ingin, perselisihan antara NU dan Ansor dalam kepengurusan yang dulu-dulu terulang. Nah jika pemenang nanti tak sejalan dengan Gus Dur, itu bahaya, karena bisa-bisa mengulangi kesalahan yang dulu terjadi," tandas Fuad.
Fuad menambahkan, calon yang diusungnya sudah menyatakan komitmennya untuk terus berada di jalur pemikiran Gus Dur. Salah satunya bersikap non partisan namun tak menampik keberagaman, dengan berkeinginan menjadikan hal tersebut sebagai modal membangun Ansor mendatang.
"Jika kami berada di jalur yang benar, kami optimis menang meski status kami non partisan yang tak memiliki dukungan finansial kuat. Bahkan kami termotivasi Muktamar NU di Makasar lalu, dimana Pak Said bisa keluar sebagai pemenang di tengah statusnya sebagai non partisan," pungkas Fuad.
Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan, dari 7 kandidat Ketua Umum PP GP Ansor yang saat ini bersaing, terdapat satu nama yang kemungkinan bisa dikategorikan berseberangan dengan Gus Dur. Dia adalah Marwan Ja'far, yang mendapat dukungan langsung dari Muhaimin Iskandar.
(bdh/gah)











































