Ini seperti disampaikan mantan Ketua GP Ansor periode 1985-1990 HA. Chalid Mawardi, saat berbincang dengan detikcom, Jumat (14/1/2011).
Menurutnya, tantangan yang akan dihadapi Ansor semakin berat setelah dinamika yang berkembang di tengah masyarakat saat ini dan akan datang juga bertambah kompetitif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masih menurut Chalid, tangan berat kedua untuk Ansor adalah mencari pemecahan mengantisipasi perubahan di tingkat nasional dan regional dalam prespektif ideologi, politik, sosial dan budaya. Hal-hal tersebut dianggap sebagai permasalahan yang juga harus dihadapi Ansor, karena sebagai organisasi kepemudaan dapat dipastikan akan menjadi tumpuan dalam mencari pemecahannya.
Sementara tantangan berat ketiga adalah bagaimana mengatasi perubahan di kalangan pemuda sendiri, terutama di kalangan Islam. Ansor sebagai organisasi kepemudaan yang sudah lama berdiri harus bisa mencari pemecahannya, karena diharapkan bisa menjadi panutan.
"Lantas apakah Ansor bisa mengatasi tantangan itu, dengan tegas saya jawab bisa. Banyak alasannya,Β salah satunya Ansor memiliki doktrin gerakan yang sama dengan NU, yaitu mengemban ke-Islaman ala Ahlussunah Wal Jama'ah yang rahmatan lil alamin," tegas Chalid.
Beratnya tantangan untuk Ansor ke depan tak hanya disuarakan dari kalangannya sendiri. Ketua PW Organisasi Nasional Demokrat Jatim Hasan Aminudin juga mengungkapkan hal serupa, di antaranya Ansor harus mampu memobilisasi anak muda sesuai dengan disiplin ilmunya masing-masing.
"Kalau Ansor ke depan bisa mengatasi tantangan itu, target dari keberadaannya di internal dan eksternal pasti akan bisa dicapai," tandas Hasan.
Sementara Choirul Sholeh Rasyid, salah satu kandidat ketua umum yang saat ini tengah bertarung di Kongres GP Ansor ke XIV, menyikapi tangangan berat yang salah satunya disampaian seniornya mengaku siap menghadapi. Jika nantinya terpilih, dia mengaku sudah menyiapkan program kerja yang matang.
"Ansor di masa mendatang bahkan juga sudah saya pikirkan, dengan langkah awal melakukan mapping pemetaan potensi. Langkah ini saya maksudkan untuk bisa memperoleh data akurat tentang potensi Ansor sampai di kepengurusan terendah se-Indonesia," kata Choirul.
Choirul yang saat ini berstatus sebagai satu-satunya kandidat non partisan juga mengatakan, jika nantinya terpilih tetap akan mengakomodir pihak-pihak yang sebelumnya berseberangan. Ini dimaksudkan untuk memperkuat kemampua Ansor dan menghadapi tantangan yang dihadapinya.
"Sejak awal saya katakan, justru dengan keberagaman itulah Ansor bisa besar. Ke depan saya ingin keberagaman itu bersatu, untuk bersama-sama dengan NU membantu membesarkan bangsa ini," pungkas Choirul.
(ze/mok)











































