Ini seperti diungkapkan salah satu Ketua PBNU, Slamet Efendy Yusuf. Mantan petinggi Partai Golkar tersebut menganggap, dengan keberagaman yang saat ada di Ansor justru menandakan badan otonom tersebut bisa diterima oleh semua kalangan.
"Mereka semua adalah kader NU, yang juga kader Ansor. Jadi tidak masalah bersaing, tapi tetap yang sehat dan jaga kekompakan," ungkap Slamet, kepada wartawan usai bertemu dengan Choirul Sholeh Rasyid, salah seorang kandidat calon Ketua Umum Ansor, di Surabaya, Jumat (14/1/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beliau-beliau datang kemari untuk memberikan dukungan, itu saja. Beliau-beliau juga mendorong agar Pak Choirul serius, sehingga bisa memenangkan perebutan kursi ketua," kata juru bicara tim pemenangan Choirul Sholeh Rasyid, Fuad Latief.
Fuad juga mengatakan, sejumlah pengurus PBNU tersebut datang juga sebagai penegasan, jika Choirul Sholeh Rasyid memang mendapatkan dukungan penuh PBNU dan ulama. Dukungan diberikan setelah CRS, demikian Choirul Sholeh Rasyid biasa disapa, dianggap memiliki rekam jejak baik di organisasi serta cakap dalam kepemimpinan.
"Yang perlu digaris bawahi, beliau-beliau tidak dapat ke lokasi pemenangan kandidat lainnya. Bagi kami itu sebuah penghormatan yang tak ternilai harganya, tak bisa dibeli dengan nominal uang berapapun," urai Fuad.
Kongres GP Ansor ke XIV di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, sebanyak 7 kandidat bersaing memperebutkan kursi ketua umum. Dari 7 orang tersebut 6 diantaranya memiliki latar belakang politik, yaitu Chotibul Umam Wiranu (Demokrat), Nusron Wahid (Golkar), A.Malik Haramaian dan Marwan Ja'far (PKB), Saifulloh Tamliha (PPP), serta Sekretaris DPW Ansor Jawa Timur yang juga anggota DPRD Surabaya, Masduki Toha.
Hingga saat ini hanya ada 1 kandidat yang tidak berangkat dari partai politik, yaitu Choirul Sholeh Rasyid. Lelaki asli Jawa Timur ini merupakan kader murni GP Ansor dan saat ini menjabat sebagai salah satu ketua dalam kepengurusan lama.
(bdh/ndr)











































