Warga Miskin Jakarta Bertahan dengan Sikap Masa Bodoh

Warga Miskin Jakarta Bertahan dengan Sikap Masa Bodoh

- detikNews
Jumat, 14 Jan 2011 14:54 WIB
Warga Miskin Jakarta Bertahan dengan Sikap Masa Bodoh
Jakarta - Rawa di antara rel itu tidak diurug. Melainkan dipancang kayu dan dilapisi papan setinggi 40 cm dari permukaan rawa. Di atasnya, triplek disekat membentuk bilik 3x4 meter. Jumlahnya terus bertambah, berderet memanjang di sisi rel membentuk gubuk liar.

"Karena nggak ada uang bayar kontrakan biasa. Kami beli, per petak Rp 500.000. Air dari sumur (yang digali dibibir rawa - red), listrik ada yang ngelola. Tahunya bayar Rp 30.000/bulan, katanya nyuntik (mencuri listrik-red)," kata Sutinah (32) seorang warga Kampung Doa Baru, RT 13/5, Ancol, Pademangan Jakarta Utara, Jumat (14/1/2010).

Hidup di tengah pemukima liar, kata Sutinah, diperlukan sikap cuek dan perasaaan 'masak bodoh'. 2 Kalimat itu, imbuh Sutinah, yang membuatnya dan ratusan warga lain bertahan di pinggiran Jakarta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Masa bodoh orang mau bilang apa. Sarang copet, tukang palak atau apa. Kami digusur, paling juga pada cuek-cuek saja. Kalau nggak begitu, ya nggak bisa hidup begini," kata Sutinah sambil menjemur pakaian di atas tumpukan sampah rumah tangga.

'Begini' yang dimaksud Sutinah menunjuk panorama yang terbentang di antara jaringan rel di belakang Pasar Pagi Mangga Dua tersebut. Sebuah drama kehidupan seperti yang dikemas dalam paket wisata kemiskinan 'Jakarta Undercover': bau sampah, anak-anak beringus, gubuk-gubuk yang siap digusur kapan saja dan mimpi nyaman di pusat Jakarta.

"Hiburan kami ya televisi. Kalau nggak nonton sinetron ya Gayus. Sakti banget ya Gayus," seloroh Ela (25), teman Sutinah mencoba berimajinasi.

(Ari/anw)


Berita Terkait