"Karena nggak ada uang bayar kontrakan biasa. Kami beli, per petak Rp 500.000. Air dari sumur (yang digali dibibir rawa - red), listrik ada yang ngelola. Tahunya bayar Rp 30.000/bulan, katanya nyuntik (mencuri listrik-red)," kata Sutinah (32) seorang warga Kampung Doa Baru, RT 13/5, Ancol, Pademangan Jakarta Utara, Jumat (14/1/2010).
Hidup di tengah pemukima liar, kata Sutinah, diperlukan sikap cuek dan perasaaan 'masak bodoh'. 2 Kalimat itu, imbuh Sutinah, yang membuatnya dan ratusan warga lain bertahan di pinggiran Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
'Begini' yang dimaksud Sutinah menunjuk panorama yang terbentang di antara jaringan rel di belakang Pasar Pagi Mangga Dua tersebut. Sebuah drama kehidupan seperti yang dikemas dalam paket wisata kemiskinan 'Jakarta Undercover': bau sampah, anak-anak beringus, gubuk-gubuk yang siap digusur kapan saja dan mimpi nyaman di pusat Jakarta.
"Hiburan kami ya televisi. Kalau nggak nonton sinetron ya Gayus. Sakti banget ya Gayus," seloroh Ela (25), teman Sutinah mencoba berimajinasi.
(Ari/anw)











































