Pengamat Politik: Ansor Bukan Barang Dagangan

Pengamat Politik: Ansor Bukan Barang Dagangan

- detikNews
Jumat, 14 Jan 2011 14:39 WIB
Pengamat Politik: Ansor Bukan Barang Dagangan
Surabaya - Masuknya kandidat Ketua Umum GP Ansor dari kelompok partisan masih menjadi bahan perbincangan menarik di ajang kongres GP Ansor ke-XIV di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya. Ibarat barang dagangan, GP Ansor saat ini laris manis diminati pembeli untuk selanjutnya kembali 'diperjual belikan'.

Pengamat Politik Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Aribowo, mengatakan masuknya kandidat ketua umum dari kelompok partisan di tubuh GP Ansor saat ini memang tidak bisa dihindari. Ini setelah GP Ansor dinilainya memiliki basis massa yang kuat, sehingga bisa melanggengkan kepentingan dari kelompok tertentu.

"Orang partai kalau ingin langgeng di kelompoknya harus memegang organisasi tertentu, salah satunya Ansor yang memiliki basis massa jelas," ungkap Aribowo saat dihubungi detikcom, Jumat (14/1/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi itu, kata Aribowo, akan menimbulkan penilaian ganda apakah akan menjadikan Ansor semakin baik atau sebaliknya. Semuanya tergantung dari pemegang kekuasaan yang ada di dalamnya. "Baik dan buruk, Ansor akan maju atau mundur dengan calon yang beragam itu sangat relatif. Tergantung siapa dan bagaimana cara menjalankannya," sambungnya.

Sementara Wakil Ketua Umum GP Ansor, Umarsyah HS, terkait beragamnya latar belakang kandidat calon ketua umum, kembali menegaskan penilaian wajarnya. Meski demikian dia juga mengatakan, Ansor bukan barang dagangan yang bisa diperjual belikan.

"Yang beragam itu, hendaknya menjadi alat bagaimana Ansor bisa lebih berperan, tetap dengan menjaga independensinya. Seandainya nanti yang jadi kandidat berlatar belakang politik, jangan terus memperjual belikan Ansor untuk golongannya. Tetap, Ansor bagian dari NU," tegas Umarsyah.

Untuk menjaga kemungkinan buruk tersebut, Umarsyah kembali menyuarakan agar pemilik hak suara bisa menjaga independensinya, dengan menyalurkan haknya sesuai dengan tujuan kemajuan Ansor.

"Itu jelas penting. Jangan terus karena pemberian, dalam bentuk apapun, Ansor nantinya justru menjauh dari tujuannya membantu NU dalam membesarkan bangsa," pungkasnya.

Kandidat Ketum GP Ansor yang sudah meramaikan bursa sudah diantaranya, Khatibul Umam Wiranu, politikus yang pada awal 2000-an awal aktif di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Bahkan, ia sempat menjadi anggota DPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) dalam kurun waktu 2000-2004, sebagai Pengganti Antar Waktu (PAW) Alwi Shihab yang dipilih menjadi Menteri Luar Negeri di era Presiden KH Abdurrahman Wahid. Namun di periode 2009-2014 justru Khatibul Umam Wiranu bergabung ke Partai Demokrat dengan menjadi anggota Komisi II DPR.

Sedangkan, Nusron Wahid adalah kandidat calon Ketum GP Ansor yang saat ini berkarir politik di Partai Golkar dan pernah menjabat sebagai Ketua Umum PB PMII. Malik Haramain, politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang juga Sekjen PP GP Ansor. Munawar Fuad mantan Sekjen GP Ansor. Marwan Jakfar, politisi partai yang diketuai Muhaimin Iskandar dan menjabat sebagai Ketua Fraksi PKB.

Namun diperkirakan dalam perjalanan nanti, akan muncul nama-nama baru lagi, seperti salah satunya Choirul Sholeh Rasyid, pria asli Jawa Timur yang merupakan kader murni GP Ansor.

(bdh/anw)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads