"Biar baju saya biru, tapi biru Bung Karno. Tak hanya biru saja, tapi juga merah Bung Karno, hijau Bung Karno, kuning Bung Karno. Bung Karno pendiri bangsa ini dan milik kita semua," ujar Anas Urbaningrum saat menjadi pembicara di depan peserta Kongres XIV Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Asrama Haji Sukolilo, Kamis (13/1/2011) malam.
Anas menilai bangsa Indonesia dapat bersaing dengan bangsa-bangsa lain asalkan mempunyai karakter dan berdikari. Pada kesempatan itu, Anas meminta GP Ansor berperan besar untuk kemajuan bangsa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
bapak empat anak kelahiran Blitar 41 tahun yang lalu itu.
Suami dari Athiyyah Laila ini juga menerangkan, kepemimpinan pada era sebelum reformasi adalah sentralisasi kekuasan terpusat dan demokrasi tidak bisa bekerja. Kekuasaan waktu itu sederhana, yakni Cendana, Cilangkap, Sriti.
"Sekarang kekuasaan terdistribusi hampir merata, baik secara vertikal atau horizontal. Persoalannya, apakah kemajuan demokrasi punya sambungan yang kuat, untuk hajat dan kepentingan rakyat. Tantangan ini tidak hanya untuk Presiden, tapi juga ditemui bupati seperti Bupati Banyuwangi," papar Anas sambil melihat ke arah Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang juga hadir di acara kongres GP Ansor, dan disambut tawa hadirin.
Anas menambahkan, Indonesia juga berdikari ekonomi. Eknomi yang kuat, hasil pertumbuhannya bisa didistribusikan secara adil. Kesejahteraan berputar di seluruh kalangan dan kerja politik juga berputar di seluruh lapisan masyarakat. "Kalau tidak berputar mesin kesejahteraan rakyat maka elitisme menjadi penyakit demokrasi," kata Anas.
Mantan Ketum PB HMI periode 1997-1999 ini menilai, Indonesia bisa bersaing dengan bangsa lain. Namun, di zaman sekarang ini tidak bisa berdiri sendiri tetapi tidak boleh bergantung ke bangsa lain. "Indonesia berkepribadian secara budaya, punya karakter. Bangsa yang besar adalah bangsa yang berkarakter," ujarnya.
Di sela-sela pidatonya, Anas mencontohkan karakter seperti pada diri Sekjen Partai Golkar Idrus Marham, yang juga hadir pada acara Kongres GP Ansor itu.
Menurutnya, Idrus waktu lahir di desanya belum ada listrik. Tetapi hasilnya bisa menjadi Sekjen Golkar. Mungkin saat lahir ada listrik, mungkin Idrus Marham bisa jadi Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
"Pak Idrus ngerti komputer sejak mahasiswa tingkat empat. Itu pun sistemnya 11 jari. Tapi sekarang jadi, karena punya karakter," ujar alumnus UGM. Idrus tersenyum mendengar pernyataan Anas.
Anas menegaskan, karakter yang membuat bangsa ini optimis, dapat berkompetisi, bertanggung jawab, harmoni dan tidak harus cakar-cakaran dan mempunyai kepribadian budaya. "Budaya nafas buat kita. Separuh nafas Indonesia adalah budayanya," urainya.
Anas berharap, Ansor sebagai organisasi pemuda yang besar, besar juga mempunyai tanggung jawab yang besar, menjadi spirit dari ujung sampai Merauke bangsa Indonesia. "Pergantian generasi sesuatu tidak terhindarkan. Jadi sahabat Ansor harus memberikan sumbangan besar bagi kepentingan umat, bangsa dan negara," jelasnya. (bdh/aan)











































