"Terminal Pulogebang akan menarik lebih keluar (dari Jakarta) bus-bus yang ada. Kalau trayeknya tepat, maka bisa mengatasi kemacetan. Tapi kalau trayek angkutannya tidak ditata, bisa jadi muncul titik kemacetan baru," ujar Sekjen Masyarakat Transportasi Indonesia, Ellen Sophie Wulan Tangkudung, dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (14/1/2011).
Ellen mengingatkan agar pemindahan terminal Pulogadung ke Pulogebang itu tidak seperti saat Terminal Cililitan dipindah ke Terminal Kampung Rambutan beberapa waktu lalu. Ketika suatu terminal dipindah, maka jangan sampai mengabaikan terminal yang lama sehingga peruntukannya malam membuat kesemrawutan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terminal Cililitan yang dipindahkan ke Kampung Rambutan beberapa waktu kemudian memunculkan terminal bayangan di Pasar Rebo. Terminal bayangan itu muncul karena di tempat itu ada trayek yang tidak terpenuhi, sementara ada permintaan dari penumpang.
"Secara tidak langsung, terminal baru itu bisa saja mengurangi kemacetan. Tapi akan jadi kegagalan kalau mengakibatkan kemacetan di tempat lain karena menimbulkan terminal bayangan. Soal seperti ini sebenarnya bisa diprediksi," imbuh Ellen.
Dia menyarankan, Dinas Perhubungan DKI membuat analisis demand perjalanan penumpang. Dengan demikian bisa diketahui apakah ada trayek yang kosong atau tidak. Ketidakadaan trayek itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh angkutan umum untuk ngetem sehingga muncullah terminal bayangan.
"Pemindahan terminal memang harus diikuti dengan penataan trayek sehingga penumpang bisa terlayani dengan baik," tutup Ellen.
Terminal Pulogebang berada di pinggir JORR (jalan tol lingkar luar). Bus dari luar kota bisa langsung masuk ke jalan tol. Pembangunan terminal Pulo Gebang untuk mengintegrasikan antara bus antar kota antar provinsi, bus regular, dan bus Transjakarta Koridor XI (Kampung Melayu-Pulogebang).
Terminal Pulogebang nantinya akan akan menjadi terminal terpadu yang memiliki fasilitas pendukung berupa tempat istirahat serta park and ride. Pada tahun 2011 ini tahapan yang dilakukan Pemda DKI adalah pembebasan tanah dan pembangunan akses terminal dengan anggaran Rp 300 miliar.
Sebelumnya, pada 2010 telah dilakukan tender dan desain bangunan dengan anggaran Rp 30 miliar. Selanjutnya pada 2012 akan memasuki tahapan penyelesaian dengan anggaran sekitar Rp 150 miliar.
(vit/nrl)











































