"Istilah teknisnya konflik, karena ada pertemuan dua arah arus kendaraan yang berbeda. Konflik itu belum tentu tabrakan. Pertemuan dua arah arus, karena yang satu lurus sedangkan yang satu lagi belum lurus, jadi harus hati-hati," kata Sekjen MTI Ellen Sophie Wulan Tangkudung dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (13/1/2011).
Setiap ada pertemuan dua arus kendaraan, seperti misalnya di Tol Semanggi, pengendara memang harus ekstra hati-hati. Gerbang tol miring lebih tidak aman jika dibandingkan dengan yang lurus. Namun karena keterbatasan lahan sementara perlu terobosan menghindari penumpukan kendaraan dengan membuka banyak pintu, maka gerbang tol ini harus bisa diterima.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
MTI sebelumnya telah mengamati penggunaan GT Cimanggis. Kala itu, pengoperasiannya belum full. Belum semua loket tol beroperasi, sehingga banyak pengendara yang bingung.
"Waktu itu pengendara masih bertanya-tanya ini kok baru (loket) yang pinggir yang operasi, yang tengah belum. Kalau setiap hari lewat situ tentu tahu kondisinya, tapi kalau yang belum tahu tentu butuh informasi lebih," sambung Ellen.
Senada dengan Ellen, pengamat transportasi dan tata kota dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, mengatakan, pengguna tol tersebut akan gagap pada awal pengoperasian. Karena masih baru mereka belum terbiasa. Tentu pengendara harus ekstra hati-hati karena begitu keluar pintu tol harus melihat ke kiri lantaran ada arus kendaraan yang besar.
"Kendaraan kemudian digiring dengan adanya semacam tiang-tiang kecil. Konsep seperti ini tentu butuh sosialisasi agar yang lewat jadi terbiasa," kata Yayat.
Dia menjelaskan, volume kendaraan yang keluar dari pintu tol akan banyak. Sementara itu, badan jalan yang ada sempit sehingga menyulitkan kendaraan. "Kalau di TMII begitu selesai bayar (tol) langsung tancap gas, sedangkan kalau di Cimanggis harus pelan dulu karena waspada kendaraan lain," terang dia.
Yayat menjelaskan, GT Cimanggis muncul untuk mengurangi beban pintu Tol Dalam Kota. Agar tidak terjadi penumpukan kendaraan akibat besarnya pergerakan kendaraan dari Cibubur dan Bogor, maka dibukalah pintu tol baru. Karena keterbatasan lahan, maka pintu tol melintang menjadi pilihan dan menjadi sesuatu yang baru.
"Karena ini baru juga, Jasa Marga perlu mengevaluasi secepatnya. Kalau ada kekurangan segera diperbaiki. Sebenarnya ini memang bisa mengurangi pola penumpukan, di mana kendaraan diurai lebih panjang agar kendaraan tidak menggenang lebih besar," terang dia.
GT Cimanggis Utama melayani pengguna jalan tol dari arah Ciawi, Bogor, Sentul, Cibinong, Gunung Putri dan Cimanggis. Sebelum GT ini beroperasi, biasanya pengguna tol melakukan pembayaran di GT TMII atau Pasar Rebo yang sangat padat.
Jumlah gardu yang didesain miring/serong ada 18 gardu dan yang melintang (barrier) ada 5 gardu. Gardu dengan desain miring hanya melayani kendaraan kecil/sedan dengan tinggi maksimal 2,5 meter, sedang gardu melintang melayani kendaraan besar (truk/bus).
Khusus untuk gardu yang didesain miring/serong, dibagi menjadi 3 bagian (cluster). Masing-masing cluster terdiri dari 6 gardu. Lajur dari masing-masing cluster ini sudah dipisahkan menjadi tiga bagian sejak memasuki gerbang tol sampai dengan keluar gerbang tol (setelah transaksi). Sehingga kendaraan dari masing-masing cluster tidak akan menyatu. Dengan sistem ini, tentunya keamanan pada saat menjelang dan setelah transaksi akan lebih terjamin.
Selain itu, untuk meningkatkan pelayanan transaksi dan memberikan kemudahan bagi pengguna jalan, Jasa Marga juga akan mengoperasikan Gardu Tol Otomatis di Gerbang Tol Cibubur. Pengoperasian gardu tol ini serupa dengan yang telah dioperasikan di Gerbang Tol Pasteur, Bandung.
GT Cimanggis Utama telah diuji coba sejak 30 Juni 2010. Tujuannya adalah mengurangi antrean transaksi di gerbang tol menuju Jakarta. Jasa Marga menyatakan, pengguna jalan tol dari arah Ciawi, Bogor, Sentul, Cibinong, Gunung Putri dan Cimanggis yang biasanya melakukan pembayaran tol Ruas Jagorawi di GT TMII atau Pasar Rebo, kini pembayarannya dilakukan di GT Cimanggis Utama.
Sedang kendaraan dari arah Cibubur ke arah Jakarta yang saat ini sistem transaksinya dengan sistem tertutup (mengambil kartu tanda masuk di GT Cibubur dan membayar tol di gerbang keluar), kini menjadi sistem terbuka. Pengguna jalan tol langsung membayar tol pada saat memasuki GT Cibubur, dan bisa keluar di pintu keluar Pasar Rebo, TMII atau di UKI dengan tarif merata. Dalam penerapan perdana hari ini, kebijakan baru di GT Cibubur menyebabkan kemacetan parah di gerbang tersebut.
PT Jasa Marga beralasan, kemacetan di GT Cibubur karena pengendara belum beradaptasi dengan kebijakan baru tersebut.
(vit/nrl)











































