"Kami tidak berani melaut. Anginnya terlalu kencang ditambah gelombang besar, bisa-bisa perahu kami tenggelam " ujar Otong Sumpena (55), nelayan warga Santolo, Garut, Kamis (13/1/2011), kepada sejumlah wartawan.
Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, nelayan di Pantai Selatan, Kabupaten Garut, beralih profesi. Mereka menjadi buruh tani dan pedagang di sepanjang pantai selatan yang membentang sejauh 84 kilometer.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, menurut Bupati Garut, Aceng HM Fikri, untuk menutupi kebutuhan ikan di Pantai Selatan Garut, mereka terpaksa mendatangkan ikan dari Surabaya, Jawa Timur. Namun harga pun dipatok lebih mahal.
"Jadi para bandar membeli ikan dari luar, kemudian dijual kepada warga terutama para pemilik rumah makan di sepanjang pantai dengan harga yang cukup tinggi," ungkap Aceng.
Aceng mengatakan Pemkab Garut secara khusus telah menyalurkan bantuan beras kepada para nelayan selama tidak melaut. "Ke depan pemerintah juga memikirkan solusi terbaik untuk menciptakan mata pencaharian tambahan bagi para nelayan, karena musim angin barat ini terjadi tiap tahun," pungkasnya.
(fay/nrl)











































