"Maunya tetap diproses, saya masih sayang papa walaupun pernah kayak gitu, dia kan yang ngurus dari kecil. Kalau bisa dihukum ringan saja," kata MO saat dikunjungi wartawan di kediamannya di Kampung Pule, Kelurahan Cijantung Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (11/1/2011) malam.
MO mengakui rasa iba itu muncul ketika dirinya mengunjungi sang ayah di tahanan Polsek Pasar Rebo, Sabtu (8/1/2011) siang, berselang beberapa jam saat ayahnya itu dicokok polisi pukul 03.00 WIB dini hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menambahkan, saat bertemu ibunya yang saat itu menjenguk suaminya, sang ibu sempat dongkol dengan sikap MO yang melaporkan suaminya ke polisi. "Waktu itu mama bilang, kenapa harus ke polisi, kenapa enggak dibicarain baik-baik saja antar keluarga," ujarnya mengutip perkataan sang ibu.
MO mengaku diperlakukan tak senonoh oleh ayahnya pertama kali ketika dirinya menginjak kelas 4 SD. Kejadian berlanjut saat dia berada di kelas 6 SD di pertengahan 2010.
Kejadian kedua itu dilakukan ayahnya ketika pulang kerja dalam keadaan mabuk. Meski sempat terpergok sang istri namun tidak reaksi apapun dari orangtuanya tersebut.
Tak tahan menanggung beban derita seorang diri, MO pun menceritakan kepada salah seorang teman di sekolahnya yang juga bertempat tinggal tak jauh dari kediaman MO, di Kampung Pule, Kelurahan Cijantung Kecamatan Pasar Rebo.
Tanpa disadari, cerita pun menyebar dan sampai ke telinga keluarga MO. Karena malu, kedua orangtua MO meninggalkannya seorang diri. Merasa ditelantarkan, MO melaporkan perbuatan ayahnya tersebut ke kepolisian setempat.
(ahy/ape)











































