Kondisi ini sudah berjalan dua pekan ini. Desa itu kini bak perkampungan yang mati. Masyarakatnya enggan untuk beraktifitas di perladangan mereka. Ini karena warga melihat ada dua ekor harimau sudah memasuki perladangan mereka.
"Masyarakat sudah tidak ada yang berani untuk pergi ke perladangan mereka. Warga takut, karena mereka sempat melihat ada harimau masuk ke perladangan mereka," kata aktivis lingkungan Pilar di Jambi, Syaefii dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (11/01/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemerintah harus segera mengatasi masalah ini. Bila tidak segera diatasi, maka bisa saja warga mengambil tindakan sendiri. Ini yang kita khawatirkan kalau warga mengambil jalan dengan cara memburunya," kata Syaefii.
Sementara itu, Kepala Seksi III BKSDA Wilayah Jambi, Nur Asman kepada detikcom menyebut, desa tersebut memang berbatasan dengan kawasan taman nasional. Kondisi itu sangat memungkinkan bila harimau melintas di desa tersebut.
"Kami memang belum menerima laporan tersebut. Namun biasanya, harimau tidak akan mengganggu manusia, bila manusia itu tidak mengganggunya," kata Nur Asman.
Dia menjelaskan, dari penelitian yang ada, manusia yang diterkam harimau di Jambi, semuanya pasti bermasalah. Biasanya mereka anggap remeh kearifan lokal bahwa di dalam hutan juga harus menghormati penguasa hutan.
"Dari kasus yang ada, korban diterkam harimau biasanya anggap remeh bila masuk hutan. Selalu ngomong besar dan merasa tidak takut dengan harimau. Kalau sudah begitu, maka dengan sendirinya akan diterkam harimau," kata Nur Asman.
Namun demikian, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan kepala desa setempat agar jangan melakukan pembunuhan harimaunya. Pihak BKSDA Jambi akan berkoordinasi dengan sejumlah LSM lingkungan untuk mengatasi hal itu.
"Kita berharap jangan sampai terjadi konflik. Masyarakat juga jangan lantas mengambil tindakan untuk menghabisi harimau. Tim akan segara kita kirim ke desa tersebut," kata Nur Asman.
(cha/fay)











































